Selasa, 18 November 2014

Egois Vs Keras Kepala

Kita itu unik. Dimana aku memiliki sifat egois dan kamu lebih kepada keras kepala. Kadang aku berfikir, apa kita ini cocok? Perihal cocok atau tidak cocok saya enggan menyocok- nyocokan sesuatu. Bahkan , karena alasan cinta sekalipun. Ini tak baik. Sementara, pada kenyataanya kita sangat berbeda. Dari kata mana kita, sifat kita bisa di katakan sama? Kau ini ada-ada saja tuan. Perutku sangat geli, mendengar kau bicara tentang kesamaan. Yang pada nyatanya berbeda.

Memang benar, orang yang sedang jatuh hati itu begini. Selalu menyamakan apa saja. Mungkin, agar dapat di bilang jodoh. Mungkin. Kau ini keras kepala, apakah mungkin keras kepala beda tipis dengan egois? * hahaha*

Cinta memang paling pandai mengajari orang berperilaku gila, bahakan autis. Bahkan orang sering kali hilang kewarasan karena ini. Seperti aku juga kamu. Kita menyamakan sifat . Aku yang egois dan kamu yang keras kepala. Kau yang ingin selalu menang sendiri dan aku dengan sifatku, yang tidak mau tahu.
Apa kita bisa saling paham satu antara yang lain. Apa kita bisa saling mengerti juga memahami.?

Aku mencoba berfikir 2 kali perihal ini. Sebelum kita berjalan terlalu jauh. Ke arah yang serius. Sifat kita berbeda, tak akan menemui jalan . Ini bukan soal pesimis,  tapi ini tentang memperhitungkan luka. Sebelum akhirnya kecewa dengan pribadi kita.Sebelum luka parah, sebelum pedih menyayat, ada baiknya kita saling waspada juga menjaga.

Ini juga bukan tentang takut patah hati. Bukankah setiap cinta punya resiko masing- masing? Seperti siap untuk patah; misalnya. Cinta hanya butuh kesiapan. Kesiapan atas apa saja. Hati yang akan runtuh.

Cinta juga bukan soal bahagia. Tetapi juga tentang haru biru. Baiklah aku tak ingin membahas perihal ini terlalu serius. Asal kita cinta, asal kita sama- sama punya rasa nyaman. Egois juga keras kepalamu akan sembuh dengan sendirinya. Karena cinta dapat merubah apapun. Dan karena kita pasangan yang unik. Kita berani atas segala resiko.

Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...