Rabu, 22 April 2026

Banyak Hilangnya



Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jakartakota berlalu lalang tiap 5 menit sekali. Stasiun riuh, orang-orang memburu waktu. Aku masih duduk mematung sembari mendengarkan lagu. Pagi ini "Malibu Night" dari Lany mengalun di telingaku.
Aku masih belum mau beranjak untuk melanjutkan perjalananku pergi bekerja. Ini masih terlalu pagi, aku pikir menunda 15 menit tidak jadi masalah.

Aku terus memandangi peron arah Bogor. Pikiranku sepenuhnya kosong. Aku menghela napas yang cukup panjang. Aku ingat hari-hari ketika ibu masih ada di sampingku. Sudah di April yang hampir usai. Bulan depan adalah 100 harian ibu. Ahh....rasanya baru sehari ibu pergi dari rumah untuk berkeliling kota.
Ternyata pada saat itu juga ibu tak pernah kembali ke rumah. Ibu tak lagi pulang untuk memasak. Tidak ada lagi suara cerewet ibu di rumah. Tidak ada pelukan ibu di hari-hari yang sangat melelahkan. Rumah sudah mulai terasa sepi. Tidak ada lagi wangi masakan ibu. Perabot rumah mulai berdebu seiring waktu kepergian ibu.

Mataku kembali berkaca di tengah riuh stasiun kota. Aku menahan dadaku yang tiba-tiba terasa sesak. Bibirku mulai bergetar menahan tangis yang hampir pecah. 

Tahun 2026 banyak hilangnya. Aku kehilangan sebagian diriku yang utuh. Hatiku remuk. 
Bukan hanya aku yang remuk, tetapi Bapak juga masih sangat terpukul hingga hari ini. Separuh jiwanya pergi untuk selama-lamanya.
Bapak sering kali masih menangisi ibu di dapur. Tubuhnya kehilangan banyak berat badan. Matanya masih terlihat lelah. Rambutnya kusut. Matanya banyak sekali kesedihan jika kutatap dalam-dalam. 

Seringkali terbayang, ibu sedang sibuk apa di surga?? Apa tempat tinggalnya yang baru lebih membuat ibu bahagia?? Apa ibu masih sering kesakitan di sana??











Kebun Bunga

Hai....
Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah. Ini adalah tahun kesekian yang akhirnya aku memberanikan diri untuk duduk dan berbincang-bincang. Setelah banyak hal yang aku lalui di hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan, dan tahun-tahun kemarin. Aku memutuskan untuk datang lagi.

sebentar, aku tarik napas yang dalam dulu. hehehe....
Di dadaku rasanya penuh sekali. Aku harus memulai dari mana dulu yaa??
Hmmm...
Di beberapa tahun kebelakangan aku melewati banyak hal. Ada hari di mana aku akan tertawa lepas, ada minggu-minggu yang kecewa, ada waktu dimana aku menahan sesak didada yang tak kunjung reda.

Luka butuh banyak waktu, ternyata.

Saat aku memutuskan untuk datang ke sini, harusnya aku sudah paham. Bahwa aku akan mengingat beberapa kenangan yang aku simpan diam-diam. Membuka beberapa bekas luka yang pelan-pelan pulih. Dan membuka beberapa sesak di dadaku yang hampir membuatku sekarat.

Ternyata, aku sudah berjalan sejauh ini. Mesti jalanku terasa pelan, tidak apa-apa. Semuanya hanya perlu waktu hingga semuanya terasa biasa saja. Dan aku bisa! Aku bisa pulih meski ada hari dimana aku tertatih-tatih.

Dibeberapa tahun kebelakang, segalanya memang terasa berat buat aku. Aku banyak kehilangan. Aku banyak merasa kecewa. Aku marah dengan diriku. Banyak ribuan pertanyaan "kenapa" yang tidak aku selesaikan jawabannya hingga hari ini. Ternyata jawabannya sederhana. Aku hanya butuh ruang untuk menerima dengan lapang dada, dengan rasa ikhlas yang seluas-luasnya.

Aku murung, aku marah, aku kecewa, bukan terhadap oranglain. Tapi terhadap diriku sendiri. Aku seringkali beranggapan kalau Tuhan tidak memihak aku di kehidupan yang hanya sekali ini. Ternyata aku salah besar. Justru, Tuhan punya skenarionya sendiri. Barangkali hal yang kita benci di hari lalu, adalah hal baik yang Tuhan rancang untuk aku di hari yang akan datang. 
Semua seperti kejutan, atau hadiah yang sedang Tuhan siapkan. 

Aku tahu, untuk iklas dan melapangkan segala hal yang menyakitkan itu tidak mudah. Akan ada banyak tangis di dalamnya.
Tapi percayalah, waktu punya jawabannya sendiri. Dan aku mulai pelan-pelan kembali tumbuh. Aku mulai pelan-pelan melapangkan hal-hal yang menyakitkan.

Rasa sedih, kecewa, dan tawa akan selalu ada dihari-hari yang akan datang. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja pada akhirnya.










Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...