Sabtu, 20 Oktober 2018

Mataku adalah Matamu Juga

di bagian aku mencintaimu, aku akan kehilangan apa saja yang ada pada tubuhku sendiri. separuhnya akan tumbuh pada tubuhmu yang pada akhirnya akan melengkapi tubuhku yang kurang. Tanganmu akan sigap menggenggam untuk menuntunku berjalan melaju dengan deru langkahmu. 

Dan matamu ialah kumpulan lampu pijar yang menyala dalam gelap. untuk menerangi gelap gulita langkahku pada temaram malam yang ramai oleh sepi yang pengap. matamu kini ialah mataku juga. tubuhmu kini ialah tubuhku juga. sesuatu yang lengkap telah bernama kita pada akhirnya. kita melangkah pelan pada garis derapharap yang penuh semoga. melukis kenang-kenang dengan bijaksana. melupa lara menyembuhkan duka yang pernah kita kunjungi di waktu sebelumnya.

ini kita dengan cerita yang baru saja dimulai. dengan segenap langkah yang berusaha menyamakan. dengan genggam yang ingin terus seirama.




Sabtu, 18 Agustus 2018

Luka, Dukaku ialah Kau Sendiri

Nyatanya, tak semua yang ingin kita miliki akan menjadi milik kita pada akhirnya. Perasaan akan cepat sekali berubah pada waktunya. Seperti perasaanmu padaku. Tak akan pernah bisa sama seperti dahulu. Kau sudah jauh menemukan rumah terlebih dahulu setelah usainya kita. Aku mengamatimu dari kejauhan. Aku dan kamu telah berjalan sendiri-sendiri untuk saling memunggungi. 

Aku masih bersikeras memeluk tubuhku erat-erat. Merengkuhnya dengan gagah dan berani. Agar tidak jatuh lagi. Mengusahakan hatiku tetap baik-baik saja adalah bukan suatu kemudahan. Membiarkanmu berjalan pergipun sudah menjadi keharusan.

Aku tak akan memohon kepadamu untuk kembali. Kau, kubiarkan pergi dan berlari sesuka hatimu menyakiti. Itu hakmu bukan? Aku yang tak berhak atas kehidupanmu kemudian.

Jangan tanyakan bagaimana parahnya lukaku? Aku yang akan berusaha menyembuhkannya sendiri. Tak usah kau berpura-pura peduli. Sebab luka dan dukaku ialah Kau sendiri.

Yang sudah ditakdirkan pergi, akan pergi kemudian. Yang akhirnya hilangpun akan lenyap ditengah perjalanan. 

Minggu, 12 Agustus 2018

Merengkuh Lukaku Sendiri

Sejak sore itu, aku tak mengharapkan ia kembali lagi. Semestaku sudah berkali-kali ia patahkan. Duka dan luka kini kurengkuh sendirian. Apa dia akan datang untuk menguatkan? Kujawab dengan suara paling lantang, yang dengan susah payah aku usahakan dalam tangis sendirian.

Tidak! Ia tidak akan kembali lagi. Mata itu, tatapannya sudah berubah bukan untukku lagi. 

Luka sudah terlalu dalam untukku sedihi. Dukanya sudah memilukan hati. Aku tak ingin memintanya untuk mengerti tubuhku yang patah. Jatuh berkeping-keping. Biarkan saja aku berjalan sendiri, tertatih menuju pergi.

Semestaku, kini aku melepaskan ia yang memang Tuhan takdirkan bukan untukku. Melupakannya seiring waktu. Lalu, belajar menerima sebagaimana diriku. Ia bukan seseorang yang kubanggakan lagi. Ia bukan seseorang yang menemani segala resah dan menguatkanku.

Lengannya, sudah milik oranglain. Sudah, kini saatnya aku berlalu.







Senin, 28 Mei 2018

Setelah Pergimu, Aku Ingin.

Beberapa jam kemudian, hari Senin akan berlalu. Ku ingin mengemas rindu pada lubang saku baju. Akan aku letakkan di lemari-lemari bersama baju-baju bekas pelukanmu yang lalu. Esok, jika aku rindu, maka akan kukenakan satu-satu peninggalanmu itu. 

Tiba-tiba aku tersekat. Seperti ada yang mencekik leherku. Menusuk di dadaku. Saat perihalmu pulang tanpa sadar. Harusnya, aku mulai belajar memahami. Bahwa, perihalmu sudah lama berlalu pergi. Tidak ada lagi kata perihal kita. Tidak ada cemas yang meski dirasa. 

Aku terus memacu langkahku yang gontai. Menyeimbangkan semuanya. Berharap semuanya akan kembali baik-baik saja, sejak engkau memilih untuk tidak menjadi siapa-siapa dikehidupanku, harusnya semua biasa-biasa saja. Bukan malah menyesakkan dada. 

Belajar menghela napas itu menyesakkan. Sama menyesakkannya dengan melepas semua ingatan tentangmu. 

Aku ingin melupakan engkau, lantas pulang pada rumah yang akan membuatku tenang. Pada rumah yang membuatku terus tumbuh tanpa runtuh. Pada mata yang membuatku teduh. Pada lengan yang selalu menopang. Pada langkah yang beriringan. Pada pemikiran yang tidak sama tetapi saling paham. Pada rasa yang selalu mengerti. 

Hingga aku tak ingin beranjak  untuk pergi, lagi. Menjadi angka yang selalu genap, mengutuh, lengkap. Dan berarti. 

Selasa, 22 Mei 2018

Kau Tampak Biasa

Dihari-hari patah, berbulan-bulan aku terus belajar bagaimana caranya agar luka di hatiku sembuh. Berhenti mengingatmu adalah sebuah keharusan. Kepergian yang terus merapalkan tangis pada malam yang penuh kesunyian. Tak mudah. Akupun mulai lemah. Pada ingatan yang terus singgah tanpa henti. 

Terkadang aku rindu pada hal yang biasa kita lakukan bersama. Tentang hal-hal yang membuat kita tertawa dengan renyahnya. Tentang ruang kita yang penuh harapan yang akhirnya pudar seketika. 

Akupun mulai menyerah. Tangis-tangis terus berlinang. Kau meremas segala bahagia kita yang awalnya kentara. Kau menjadi sekat jalanku untuk terus maju tanpa henti. Aku berpacu bersama ingatanmu yang tak kunjung mereda di ingatanku. 

Aku terluka, sedang kau tampak biasa. Aku yang menggenggammu terlalu erat. Kau melepasku dengan suka cita. 

Aku benci kehilangan. Aku benci kau yang datang hanya untuk mempermainkan. 

Setelah itu, aku belajar menguatkan hati. Menatanya kembali. Belajar merangkak, berjalan, dan akhirnya aku bisa berlari. Untuk tetap berdiri tanpamu lagi. 

Sabtu, 28 April 2018

Jangan Datang Lagi Untuk Mengingatkan Luka

Aku pernah menangis sepuas-puasnya. Malam itu, di saat dirimu memutuskan untuk menyudahi segalanya. Aku belum memiliki kesiapan yang cukup. Untuk menerima bahwa dirimu tidak bisa berjalan beriringan denganku lagi. Engkau tak bisa menuntun  kita akan ke arah  mana. Lalu semua berakhir sia-sia. Begitu saja. 


Perjalanan panjang yang melibatkan hati  itu seketika berakhir dengan begitu saja. Kitapun memilih tidak bertegur sapa waktu itu. Aku menjalani hari-hari senduku sendiri. Melawan segala sakit yang terasa menderu di dalam hati.


Pagiku seketika hilang waktu itu. Ragamu yang tidak lagi bersamaku. Tanganmu yang seketika hilang dari genggamanku. Semua terasa mencengangkan. Ngilunya bukan main. Perlahan, aku mulai menyadari waktu. Waktu kita yang sudah berbeda. Kita mulai seperti langit dan bumi. Tidak satu alam lagi.  Akupun belajar melepaskan dirimu seutuhnya.


Hingga akhirnya akupun terbiasa sendiri. Aku belajar bangkit sesusah tenaga. Hingga aku bisa merelakanmu, meski tidak seutuhnya. Aku sembuh dari sakit yang hampir berbulan-bulan menyekatku. Aku mulai keluar dari ruang sempit yang dihuni oleh dirimu.


Setelah semuanya hampir rasional, engkau justru datang lagi. Tuhan menuntunmu lagi. Perasaanku yang hancur  dihari lalu, tidak pernah sama sekali engkau pertanyakan. Jangan memberikan napas yang nyatanya sudah tiada. Jangan  memberikan waktu  untuk semua rasa kita, yang sudah tidak sama. Masa lalu sudah cukup membunuhku. Jangan datang untuk melukai kembali. Kau dan aku cukup menyakitkan untuk dikenang. 

Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...