Sabtu, 18 Agustus 2018

Luka, Dukaku ialah Kau Sendiri

Nyatanya, tak semua yang ingin kita miliki akan menjadi milik kita pada akhirnya. Perasaan akan cepat sekali berubah pada waktunya. Seperti perasaanmu padaku. Tak akan pernah bisa sama seperti dahulu. Kau sudah jauh menemukan rumah terlebih dahulu setelah usainya kita. Aku mengamatimu dari kejauhan. Aku dan kamu telah berjalan sendiri-sendiri untuk saling memunggungi. 

Aku masih bersikeras memeluk tubuhku erat-erat. Merengkuhnya dengan gagah dan berani. Agar tidak jatuh lagi. Mengusahakan hatiku tetap baik-baik saja adalah bukan suatu kemudahan. Membiarkanmu berjalan pergipun sudah menjadi keharusan.

Aku tak akan memohon kepadamu untuk kembali. Kau, kubiarkan pergi dan berlari sesuka hatimu menyakiti. Itu hakmu bukan? Aku yang tak berhak atas kehidupanmu kemudian.

Jangan tanyakan bagaimana parahnya lukaku? Aku yang akan berusaha menyembuhkannya sendiri. Tak usah kau berpura-pura peduli. Sebab luka dan dukaku ialah Kau sendiri.

Yang sudah ditakdirkan pergi, akan pergi kemudian. Yang akhirnya hilangpun akan lenyap ditengah perjalanan. 

Minggu, 12 Agustus 2018

Merengkuh Lukaku Sendiri

Sejak sore itu, aku tak mengharapkan ia kembali lagi. Semestaku sudah berkali-kali ia patahkan. Duka dan luka kini kurengkuh sendirian. Apa dia akan datang untuk menguatkan? Kujawab dengan suara paling lantang, yang dengan susah payah aku usahakan dalam tangis sendirian.

Tidak! Ia tidak akan kembali lagi. Mata itu, tatapannya sudah berubah bukan untukku lagi. 

Luka sudah terlalu dalam untukku sedihi. Dukanya sudah memilukan hati. Aku tak ingin memintanya untuk mengerti tubuhku yang patah. Jatuh berkeping-keping. Biarkan saja aku berjalan sendiri, tertatih menuju pergi.

Semestaku, kini aku melepaskan ia yang memang Tuhan takdirkan bukan untukku. Melupakannya seiring waktu. Lalu, belajar menerima sebagaimana diriku. Ia bukan seseorang yang kubanggakan lagi. Ia bukan seseorang yang menemani segala resah dan menguatkanku.

Lengannya, sudah milik oranglain. Sudah, kini saatnya aku berlalu.







Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...