Bukan bermaksud untuk keberatan, ketika kamu mengutarakan perasaanmu kepadaku, berbagi segala cerita asmaramu, tentang kegalau-galauan yang akhir-akhir ini kamu permasalahkan. Tentang sedih-sedih yang lebih banyak kamu utarakan. Sampai aku yang mendengarnya teramat kasihan dan mengiba.
Aku, pernah berada di posisimu sekarang. Kurang perhatian, terkadang merasa tidak pernah di anggap jika kita ada, atau disalahkan yang tidak-tidak.
Kamu memang mungkin teramat cinta. Tapi, cara pandangmu kian berbeda menurut logika. Kamu sering di buat luka. Tapi hatimu masih tetap memilih dia. Bahkan, dia buruk sekalipun. Aku juga tahu, cinta yang kamu miliki bukan seperti cintanya. Cintamu tulus apa adanya. Tidak kamu buat-buat sedemikian rupa. Entah dengan iba atau rasa kasihan seperti rasanya.
Kamu selalu bilang bla, bla, bla tentang dia. Dia yang jutek membalas pesan BBM-mu, dia yang terlalu mementingkan dunianya ketimpang kamu, dia yang selalu saja kurang peka dan perasa. Dan aku hanya bisa mengarahkan ke hal yang positif. Memberi masukan sebisanya. Yang mengerti tentang kebahagianmu, aku rasa hanya dirimu sendiri. Aku hanya sebagai orang yang mensuport kamu dari belakang. Asal menurutmu membahagiakan, lakukan saja. Tapi, jika selalu membuat luka dan merana, ada baiknya kamu tinggalkan.
Karena bagiku sendiri, seseorang yang mencintai kita dengan hati, dia tidak akan rela membiarkan orang yang dicintainya menangis bahkan terluka. Dia akan selalu menjaga perasaan terlembut yang wanita miliki. Selalu bisa peka dengan suasana. Bukan acuh atau masa bodo. Dia akan selalu peduli dan mengabarimu dalam sibuknya. Entah sekedar mengingatkan makan; misalnya.
Jadi, mulai sekarang jangan selalu mengeluh. Pahami hatimu lebih jeli. Agar kamu tahu bagaimana cara membahagiakannya. Dan kamu berhat untuk selalu bahagia. Dan pilihlah hati yang siap mencintaimu sampai nanti. Tidak untuk sekedar meluka begitu lara. Dan semoga kamu lekas paham dan mengeri apa pinta hatimu sendiri. Yang terbaik akan untuk yang terbaik. Dan yang di pilih untuk menetap, dia akan selalu menetap. Tetapi, jika dia di takdiri untuk pergi, kamu harus siap hati.
Senin, 16 Maret 2015
Minggu, 08 Maret 2015
Apa Yang Kamu Genggam Erat Tidak Selamanya Akan Menetap
Saat kamu benar-benar memutuskan untuk pergi, aku rasa aku telah benar-benar gila. Aku masih belum bisa sepenuhnya merelakan kamu untuk dia. Aku masih dalam kepiluan. Dadaku setiap hari menyesak.
Bahkan, kamu tidak peduli saat aku terpuruk seperti itu. Kamu justru pergi meninggalkan aku, menyakiti aku. Tanpa kamu sadar, bahwa yang kamu sakiti itu hati. Bukan boneka yang bebas dan puas kamu jadikan mainan.
Kamu pernah memanggilku sayang. Lalu kamu memberiku harapan. Aku seperti dijadikan seperti layangan, yang bebas kamu tarik ulur sepuasnya. Kamu tidak lagi melihat ke arahku. Tapi, kamu malah melihat kearahnya. Setelah aku benar-benar mencintaimu, lalu kamu pergi dengan percuma.
Awalnya, bagiku mungkin berat untuk melepaskan apa-apa yang telah aku genggam. Aku telah menggenggam hatimu dengan seerat mungkin. Tapi, setelah beberapa bulan aku lewati dengan kesedihan. Aku sadar, bahwa apa yang telah kita genggam, tidak selamanya akan kita genggam. Ia akan pergi meninggalkan. Dan tugas kita hanya melepaskan. Lalu berbahagia dengan kehidupan yang baru.
Seperti aku sekarang, sekarang aku sudah bahagia dengan kehidupan baruku. Meski tanpa lagi adanya kamu disisiku. Dan aku masih melayangkan doa-doa kebahagian di sepertiga malam untukmu dan juga untuk dia. Agar kamu dan dia bahagia. Begitu juga dengan aku, saat kamu tinggali dengan keadaan terluka.
Bahkan, kamu tidak peduli saat aku terpuruk seperti itu. Kamu justru pergi meninggalkan aku, menyakiti aku. Tanpa kamu sadar, bahwa yang kamu sakiti itu hati. Bukan boneka yang bebas dan puas kamu jadikan mainan.
Kamu pernah memanggilku sayang. Lalu kamu memberiku harapan. Aku seperti dijadikan seperti layangan, yang bebas kamu tarik ulur sepuasnya. Kamu tidak lagi melihat ke arahku. Tapi, kamu malah melihat kearahnya. Setelah aku benar-benar mencintaimu, lalu kamu pergi dengan percuma.
Awalnya, bagiku mungkin berat untuk melepaskan apa-apa yang telah aku genggam. Aku telah menggenggam hatimu dengan seerat mungkin. Tapi, setelah beberapa bulan aku lewati dengan kesedihan. Aku sadar, bahwa apa yang telah kita genggam, tidak selamanya akan kita genggam. Ia akan pergi meninggalkan. Dan tugas kita hanya melepaskan. Lalu berbahagia dengan kehidupan yang baru.
Seperti aku sekarang, sekarang aku sudah bahagia dengan kehidupan baruku. Meski tanpa lagi adanya kamu disisiku. Dan aku masih melayangkan doa-doa kebahagian di sepertiga malam untukmu dan juga untuk dia. Agar kamu dan dia bahagia. Begitu juga dengan aku, saat kamu tinggali dengan keadaan terluka.
Langganan:
Komentar (Atom)
Banyak Hilangnya
Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...
-
Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...
-
Hai.... Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah. Ini adalah tahun kesekian yang akhirnya aku memberanikan diri untuk duduk dan b...