Kamis, 31 Desember 2015

Tanpa Penjelasan

Aku duduk mematung, menikmati angin yang terus saja membasuh mukaku. Menatap kebagian sudut kota. Gedung-gedung tinggi, lampu para penduduk kota. Kembang api yang bertaburan di kolong langit, semua itu cukup membuat mataku puas. Aku masih dengan hal gilaku. Duduk di ketinggian gedung pusat perbelanjaan di kota Depok. Entah aku melakukannya sudah amat sering. Aku yang diam-diam menyelinap masuk, seringkali oleh satpam kepergok tanpa ampun. Dan, beruntungnya satpam di pusat perbelanjaan percaya penuh denganku. Bahwa, aku tidak akan melalukan hal-hal gila di atas sini.
Aku selalu nyaman dengan hal-hal gila yang aku lakukan, dengan hal-hal yang aneh. Aku terlalu menikmati pemikiran-pemikiran yang hidup di kepalaku. Aku masih terus mematung dengan suasana yang sangat sepi. Hanya ada aku, Santi, dan Fatimah teman gilaku. Kita masih sibuk dengan asumsi perasaan-perasaan yang hidup. Masih dengan sendu kita masing-masih. Jalan Raya Margonda terlihat sangat memadat. Penduduk, para pedagang tumpah ruah menjadi satu. Kerumunan manusia memenuhi area sekitar stasiun kota Depok.
Malam masih terlalu sore untuk pergantian tahun. Tepat pukul sebelas malam suasana semakin meriah. Aku masih melucuti dengan tatapan yang kosong.
"Ku mohon, menjauhlah dari kehidupanku.."
Aku masih terus resah dengan kalimat yang dua tahun silam kamu utarakan padaku. Tepat di tempat ini. Aku sedikit mengatur napas yang mulai terasa sesak. Menyeka getir yang kutelan getir-getir. Mengatur detak jantung yang semakin melilit. Hatiku masih mempertahanmu hingga saat ini. Malam ini kutelan segala kecut. Ingatan yang memulangkan hal-hal yang berbau kamu., teramat membuatku perih. Aku sedikir mendengus.
Kamu yang memilih melepaskan tanpa sebuah penjelasan. Entah salah apa yang aku perbuat. Hingga, kamu tega mematahkan segala harapan, impian-impian yang membuatku hampir mati sekarat. Aku masih betah menyimpan hal tentang kita. Mungkin aku adalah perempuan gila yang masih mencintai sedalam ini.
Bahkan, aku tidak pernah menimbang seberapa rasa sakit yan kamu hadiahkan untukku. Pikir saja dengan kepalamu. Lebih sakit mana, ditinggalkan dengan alasan. Atau ditinggalkan tanpa sebuah adanya penjelasan. Dan aku masih tetap mencintaimu. Dua tahun yang aku lewati, aku masih berharap. Berharap, andai kamu datang kembali menjelaskan semuanya. Ternyata, kamu justru membuatku menunggu, menunggu dan terus menunggu. Di hatiku, ingin memperjuangkanmu tanpa ingin pernah menyerah, ingin mempertahankanmu, tanpa pernah ingin untuk melepaskan. Dan lihatlah! Hingga aku menjelma menjadi wanita gila, aku masih saja mempertahankanmu. Menunggu penjelaaan dari perkataan yang ingin aku dengar langsung dari mulutmu. Aku wanita bebal, yang betah bertahan dengan pesakitan yang kamu tusukkan berulang.
Tanpa sadar, ada sesuatu yang jatuh di pelupuk mata. Aku segera mengusapnya, menyeka segera dengan punggung tangan. Tidak ingin kedua sahabatku melihat ini. Mereka juga sama hatinya sedang patah. Lelaki yang dicinta adalah milik hati perempuan lain.
Aku kembali terdiam. Dua puluh menit telah berlalu. Malam terasa lebih lama dari biasanya. Kadang, seseorang yang patah hati selalu menganggap waktu tidak pernah bisa berjalan pada semestinya. Terlalu merasa rumit dengan keadaan.
Tiba-tiba, ada yang meremas pundakku dari belakang. Aku sontak kaget bukan kepalang. Takut seseorang yang jail ingin berbuat jahat. Karena bagaimanapun, malam hari tidak baik untuk perempuan yang sedang patah hati, mengenang rasa sakit yang teramat menyayat.



Bersambung....

Sabtu, 19 Desember 2015

AKU TIDAK PANTAS CEMBURU


Aku benar-benar jatuh cinta kepada hatimu, entah sihir apa yang kamu punya. Hingga aku ingin memilikimu. Sedang kamu sudah bahagia dengan dia wanitamu. Aku tidak berhak untuk cemburu denganmu. Karena aku, hanya orang lain. Tetapi, rasanya aku ingin marah, rasanya dada ini kian menyesak. Saat aku mendapati kamu dan wanitamu sedang berdua. 
Aku hanya orang lain yang ingin memiliki hatimu dengan utuh. Aku ingin hidup dengan hatimu dengan penuh. Itu hanya inginnya hatiku, bukan hatimu. Kecemburuanku semakin hari membuat dadaku sesak dan menyempit. Sendu kian berlumut di hatiku. Seharusnya, aku melupakanmu. Justru, aku semakin mencintaimu. Justru rindu kepadamu semakin nakal. Apalagi, Desember hujan lebih banyak turun di kotaku. Rindu juga semakin banyak berlabuh. 
Entahlah....! Aku tidak tega membunuh perasaan yang sedang tumbuh. Apalagi mematikannya. Aku tidak memiliki keberanian sedikitpun. Itu sangat menyiksa seisi kepala. Aku justru lebih memilih membesarkannya tanpa kamu yang hadir untuk menjadi kita. Iya, aku membesarkannya sendiri. Meyakinkah hati yang tidak sehat lagi. 
Aku terlalu bodoh. Mungkin. Lagi-lagi aku terjebak, ditikam dengan bulus oleh rasa cemburu yang menggunung. Aku ingin tegas kepada perasaanku yang tumbuh dengan sia-sia. Meyakinkan bahwa kamu bukan satu-satunya bahagia. 
Seharusnya, aku berjalan pergi tanpa pernah ingin berlari. Berbalik lagi kearah yang kusebut 'kamu'. Ini terlalu sulit dan rumit. Dari rumus statistikpun ini terlalu sulit. Aku tidak bisa menyelesaikan soal hati. Yang rumusnya selalu berbalik lagi kehatimu. Aku tak pantas cemburu begini, karena kamu hanya tamu yang ingin kubiarkan berlalu. Tanpa ingi untuk bertamu.

Jumat, 04 Desember 2015

Aku Takut Memulai


Aku tahu, resiko jatuh cinta ya, patah hati. Setelahnya akan ada fase di mana kita akan jatuh cinta kembali seperti sedia kala. Kita akan memulai bahagia-bahagia kembali. Meninggalkan sendu-sendu yang teduh dipelupuk mata. Memulai kisah dengan orang baru, lalu menyebutnya sebagai masa depan.
Akan tetapi, aku masih takut memulai. Entah perasaan takut kehilangan kembali, atau ketakutan tentang perihal patah hati. Goresan lukanya menyayat hati dalam-dalam. Hingga lukanya teramat mencekam. Aku takut untuk memulainya lagi. Membiarkan hatiku, untuk jatuh cinta kembali.
Andai tuhan mengizinkan, aku ingin mengintip siapakah hati terakhir yang ingin berlabuh denganku. Menitah masa depan bersama hingga tumbuh dewasa. Seseorang yang ingin menghabiskan segala lelah bersamaku. Bersama, berdua saja merawat rindu dan setia. Dan, lagi-lagi tuhan memintaku untuk tetap pada garis sabar. Penantian yang tabah, akan berbuah manis; kataNya.
Tapi tetap saja, aku takut untuk memulai. Bahkan, teramat takut. Aku mempercayai, tuhan menciptakan manusia dengan cinta. Cinta, akan menuntunnya pulang kepada garis takdir tuhan. Pelan-pelan belajar mengikhlaskan. Pelan-pelan menata hati. Menyembuhkan takut. Agar aku lekas bisa memulai hal baru yang kusebut kamu (masa depan).


Lismiati

Selasa, 22 September 2015

Elegi Senja Yang Sendu

Tepat jarum jam diangka 6 pagi, Putri lekas membereskan buku-buku kuliahnya. Setelah dirasa semua telah masuk kedalam ransel miliknya, Putri bergegas berangkat ke kampus. Matahari semakin menampakkan dirinya,  kendaraan roda dua, dan juga tidak mau kalah pula,  para awak angkutan umum saling kebut mengejar penumpang.

Tepat pukul 6 pagi,  suasana jalan raya tepat di depan sebuah kompkek Perumahan Villa Inti Persada, Pamulang Timur, Tangerang Selatan terlihat memadat. Gadis ini  mendongakkan kepala untuk melihat ke arah kanan, untuk menyebrangi jalan.  Lima menit kemudian angkot bernomor 23 arah Bojongsari, tepat berhenti didepannya.

Sepanjang perjalanan, aku terasa dikejar oleh puluhan prajurit militer yang siap menembakku. Waktu memburuku agar lekas sampai ditempat tujuan.

Tepat di pertigaan Bojongsari, Depok, Putri berhenti dan lekas melanjutkan perjalanan kembali. Dia menaiki angkot bernomor 03 arah stasiun Depok Baru. 
Sama seperti kota tempatnya bekerja dan tinggal, sepanjang jalan terotoar kota Depok memadat. Dan untungnya tidak sebegitu macet. Putri duduk dikursi paling pojok belakang, memperhatikan satu persatu kendaraan yang mendahului angkutan umum yang ditumpakinya. Menopang dagunya dengan kepalan tangan. Puti masih fokus menyimak jalanan kota Depok yang begitu macet. Diperhatikan, seorang laki-laki muda yang mengendarai motor matic tepat dibelakang angkutan yang  ditumpaki. Laki-laki itu berboncengan dengan seorang wanita, mungkin, mereka adalah sepasang suami istri. Mereka terlihat sangat serasi, dari bahasa tubuh mereka, sangat jelas sekali wanita menyunggingkan tawa kecil disepanjang perjalanan. Entah sedang membincangkan apa, terlihat sangat bahagia sekali. Laki-laki itu mencoba memberi lelucon. Sang perempuan tersenyum sumringah. Lalu mereka berbelok ke arah sekolah islam Al-Hamidiyah. Mungkin wanita itu adalah seorang guru.

Putri masih memandangi jalanan. Tepat pukul 7, dia sudah membeli tiket kereta computer line arah Tanjung Barat, Jarkarta Selatan. 
Sesampainya didalam stasiun Depok Baru, Putri selalu menyempatkan diri untuk mampir disalah satu kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritnya. Iya, Kedai 'Roti O'; namanya. Putri memesan satu cappucino hangat, tidak terlalu memakai banyak gula pastinya, agar cita rasa kopi yang mengecap indra perasanya tetap terasa alami. Lidahnya mulai mengecap rasa, dan hidungnya mulai mendengus wangi kopi. Putri mulai tertarik pada jenis kopi satu ini. Sembari menunggu kereta arah Jakarta kota datang dari arah Bogor, dia menyeruput sedikit kopinya. Hidungnya masih terus mendengus. Lidahnya mulai mengecap cita rasa pait pekat, namun ada sedikit terasa manis, karena gula yang ditambahkan.


Keretapun tiba, Putri masuk disalah satu gerbong.  Dan isinya rata-rata adalah kaum adam. Saking penuhnya, dia sampai tidak mendapat tempat duduk, penumpang didalamnya nyaris penuh. Saling berhimpit dengan penumpang satu dan yang lain,  dan terpaksa dia berdiri diujung pintu kereta sebelah kiri. Tubuhnya yang tinggi semampai dan ringkih, tiba-tiba oleh seorang penumpang,  disenggol lumayan kencang, Putri hampir terjatuh. Karena tubuh seseorang yang menyenggol tubuhnya lumayan berbobot.

Tiba-tiba, sssssrrrtttttt......DUG! Cappucino yang ditangannya tumbah ke salah satu penumpang laki-laki yang bersebelahan dengannya. Kopi yang ia  bawa, raib tumpah ke flanel kotak-kotak dengan warna hitam-putih miliknya.

"Eh..ehh..sorry mas, saya nggak sengaja." , sambil membersihan tumpahan kopi dengan tissue basah yang ia punya.

"Nggak apa-apa mba, saya bisa bersihkan nanti di toilet.!" tolaknya sembari tersenyum. 

"Ta..tatapi,,, nanti bekas kopinya keburu kering. Justru makin susah hilang bekas nodanya.!", "maaf yah.?" sambil menapakan kedua tangannya tepat didepan mukanya. Persis seperti anak kecil berusia 5 tahunan, yang memohon, merengek minta dibelikan es krim kepada mamanya.

Puluhan mata masih terpaku memandanginya. Melihat dengan tatapan heran, sebagian orang justru tidak terlalu perduli. Ada juga yang memperhatikan dengan mata yang sangat detail.
Kereta pun tiba dipemberhentian terakhir, tepatnya di stasiun Tanjung Barat Jakarta Selatan. Lelaki tadi pun ikut turun bersamanya. Dia terlihat sangat buru-buru, karena jarum jam menunjukkan setengah delapan. Dan, Putri pun terburu-buru hingga  lupa, tidak berkenalan dengannya. Darah disekujur tubuhnya berdesir dari ujung kaki, jantung hingga kepalanya. Detaknya makin tidak beraturan seirama. Tidak beraturan, berdetak lebih cepat dari biasanya, seperti spesies kuman yang berkembang super cepat.

Putri meringis geli, dipagi hari begini pemandangan di ibu kota selalu terlukis dengan kata 'macet'. Pemandangan yang tidak lekang oleh seiring waktu dan hari. Pak satpam, yang menjaga perlintasan kereta api dengan senyum ramahnya. Barangkali dia tidak asing lagi dengan wajah Putri yang hampir setiap sabtu pagi dilihatnya. 
Jalan trotoar di bawah jembatan playover memadat, para pemudi motor yang ingin lebih dulu, saling menghimpit dan berebut. Angkutan umum, mobil pic up, serta mobil pribadipun tidak mau kalah. Suasana yang ramai dan bising, bau asap kendaraan, melucuti kadar oksigen di belahan bumi pagi hari.


Pengemudi angkutan umum yang selalu menambah muatan berlebihan,  angkot yang ditumpangi sudah terlalu penuh dengan penumpang, namun, pengemudinya masih saja menerima penumpang lain. Padahal, ini justru membahayakan penumpang tersebut. 
Lima belas menitpun berlalu, Putri tiba di Universitan Indraprasta PGRI Gedong, Jakarta Timur. Pagi terlalu naif, memaksanya  bergumal dengan lingkungan sekitar yang berhimpitan oleh manusia yang serakah.  Ibu kota terlalu arogant, dia masih menghela nafas panjang. Meminum air mineral yang dibawa didalam ranselnya. Lalu berjalan menuju kelas.


Yogi, kekasihnya sudah menunggu kedatangannya sedari tadi. Dengan senyuman yang sumringah, yang nyaris membuat Putri terpaku setiap harinya. Bahkan, senyumannya sangat renyah membuat partikel-partikel disekujur tubuhnya meleleh. Senyumannya yang khas nyaris membuat detak jantung berhenti sesaat.
Dia selalu menjadi pagi yang indah, sebuah karunia Tuhan yang selalu ingin dijaga. Yang ingin selalu dinikmatinya sendiri.


Yogi adalah salah satu mahasiswa desain komunikasi visual semester 6, dia adalah salah satu senior yang digandrungi para gadis-gadis kampus yang sedikit genit dan tebar pesona. Parasnya tampan. Lesung pipit di pipi kanannya, membuat wajahnya berkarisma. Sedangkan Putri adalah mahasiswi Fakuktas Bahasa Dan Seni semester 3. Memilikinya adalah sebuah keajaiban. Sebuah kebetulan yang tidak pernah terduga. Bahkan, memilikinya adalah bagai sebuah mimpi disiang bolong.  Padahal, banyak wanita yang mendekati dirinya. Dia justru  memilih Putri.


Putri yang terlihat cuek. Berbeda dengan wanita zaman sekarang yang memperioritaskan penampilan. Rela menahal sakit hanya demi terlihat cantik. Memakai hill tinggi serta memakai bedak yang supertebal seperti para badut Ancol.

Rambut hitam legam bobnya selalu dia urai, hidung yang sedikit mancung, bibir yang tipis dibalut kaca mata bulat agak sedikit persegi didisi pojoknya, nyaris membuatnya cantik alami. Hanya berlipstikan  tipis dibibirnya. Sepatu converse abu-abu yang di pakainya, jeans ripped, serta flanel merah-kuning, kotak-kotak miliknya membuatnya terlihat elegant. Namun masih tetap berkesan simple.


Putri memasuki koridor kampus di lantai tiga. Sedangkan, Yoga berada di lantai lima di gedung yang sama. Putri dan Yoga tidak berhubungan intim seperti pasangan lain, mereka nyaris biasa saja. Bertemupun seadanya, padahal mereka satu kampus. Putri lebih kemana-mana sendiri. Yoga justru lebih sibuk dengan tugas kuliahnya, lebih sibuk dengan temannya; Diana namanya. Yoga selalu memprioritaskan Diana, hatinya hampir dibuat jealous setiap harinya.

Lupakan antar-jemput, lupakan romantisnya makan malam, lupakan malam minggu, hampir Putri tidak pernah merasakan semua itu. Tapi, dia tetap bahagia, setidaknya Yoga masih detail memperhatikannya. Putri memaklumi kalau lelakinya sibuk.  Setidakmya cinta memang selalu buta, tetapi hatilah yang pandai sebagai alat perasa.


Siluet senja terlihat cantik di ketinggian lantai lima gedung kampusnya. Putri masih menatapnya dengan tatapan yang takjlub. Bahkan, dia masih saja berdiri mematung disana, enggan melewatkan satupun moment, langit dihiasi oleh warna kuning keemasan,  barisan awan menggumpal pelan-pelan menyusuri siluet senja. Hingga pekatnya awan melahapnya. Dari tempatnya berdiri, dia masih memandangi langit-langit kota Jakarta, rumah penduduk yang terlihat memadat. Gedung perkantoran yang berjejer bertengger di sudut belahan bumi, diujung tatap matanya.


Langit semakin menua, warna langitpun sudah berubah menjadi muram. Senjapun sudah pulang dijemput oleh langit malam. Sudah saatnya, Putri pulang. Suasana kampus pun semakin merenung, sepi. Hanya ada beberapa kelas yang masih terisi oleh dosen.


"Yoga," suaranya masih tertahan. Langkah kakinya tiba-tiba terhenti, seiring dengan air matanya yang tiba-tiba mengalir dipipinya.

Ada seseorang perempuan yang tiba-tiba memeluk tubuh Yoga, lalu mencium pipinya. Dan yang lebih meremukan seisi hatinya, Yoga membalas ciuman perempuan itu. Kening Diana. Dia masih memperhatikan pemandangan itu dari sudut  parkiran motor yang Yoga tidak ketahui.


"Kamu jahat, kamu benar-benar jahat," bisiknya.


Ia berlari membalik tubuhnya,  air matanya masih terus mengalir, matanya tidak kuat dengan pemandangan yang baru saja di lihatnya. Lelaki yang sangat di cintainya, memeluk perempuan lain. Bahkan sahabatnya. Yang bukan dirinya.


Putri, butuh pundak untuk menyandarkan segala pedihnya, dia duduk di sebuah taman kampus. Ada seorang lelaki yang duduk sendiri. Lantas, tanpa berfikir panjang, Putri memeluk tubuh lelaki itu. Tidak tahu lagi harus kemana untuk menyandarkan kesedihannya. Saat ini, dia hanya butuh pundak. Sakit yang di rasa begitu menyesak di rongga dadanya. Mahardika, nama lelaki itu.

Lelaki yang ditumpahi kopi sewaktu di dalam kereta, masih terdiam. Masih membiarkan Putri terisak didada bidangnya. Dengan pelan dan diam dia membalas dekapan Putri.  Mencoba menenangkannya. Meski, beberapa mahasiswa yang sedang duduk di kursi taman, memandangi mereka. Setelah tangisnya mulai mereda, Dika, sapaan akrabnya, lantas bicara.


"Sudah.!" meski dengan pikiran yang lebih banyak bingung, Dika mencoba menebak kenapa gadis ini menangis terisak-isak. Mungkin jika tidak diputuskan oleh kekasihnya, bisa jadi menjadi korban lelaki yang serakah dengan perhatian (selingkuh).

"Saya, mohon kamu berhenti menangis. Pertama ini taman kampus, semua anak-anak memperhatikan kita. Dan, yang kedua flanel saya basah untuk kedua kalinya oleh ulah kamu." Dika masih ingat betul wajah Putri, gadis yang menumpahkan  kopi keflanel miliknya ketika di dalam kereta.


"Ih, nyebelin. Tenang saja, nanti  aku cuci. Lepaskan flanel kamu.!"


"Kenalin, nama saya Mahardika. Kamu boleh memanggilku Dika. Ternyata, kamu kuliah di sini juga?"


"Putri Wulandari, panggil saja Putri. Iya, aku mahasiswi sini juga." sambil menyeka air matanya. Wajah yang masih lembab, merona malu. 


Tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki itu lagi, dari kejauhan, terlihat Yoga memperhatikan Putri. Lalu, dia menghampirinya.

"Sayang, ayo pulang. Naik buruan.!" 

"Aku, tidak menyangka. Kamu setega itu padaku, Yoga.!"


Dengan kepura-puraanya, Yoga tetap terlihat polos, "Aku salah apa? Kamu itu kenapa tiba-tiba marah sama aku."


"Udah diam! Yoga, cukup!. Kamu sudah banyak membodohi aku. Kamu, menghianati aku dibelakang. Kamu pikir aku tidak tahu? Atau kamu pikir aku ini tolol? Aku melihat dengan kedua mataku, kamu menciumnya, dan kamu juga memeluknya, Ga!" Putri sudah tidak peduli dengan tatapan  beberapa mata yang memandanginya. Peduli apa dengan mereka. Mereka tidak tahu apa yang sedang  ia rasakan. Hati nya teramat perih dirasanya. Seperti terhunus oleh ribuan pedang dan belati. Sakitnya bukan main. Lelaki yang dicintainya tega berhianat. Menduakan cintanya.


"Aku minta maaf, sayang. Sungguh,  aku hilaf. Tolong maafkan aku.!" Yoga menggenggam tangannya, Putri mencoba melepaskan tetapi, justru dicengkram tangannya dengan sangat erat.

Dengan tatapan yang memelas dan sedikit memohon. Yoga, menyesali perbuatamnya. Selama ini, dia telah mendustainya. Membohonginya dengan sangat terlalu. Membagi waktunya untuk orang lain. Termasuk membagi hatinya.
Dia mencoba memeluk, Putri. Namun, Putri justru berlalu, beranjak dari kursi taman. Lantas,  menyeret tangan Dika ke sebuah parkiran motor. Dia menghindar, berusaha mengendalikan seisi dadanya. Sesak didadanya kembali menghimpit rongga pernapasannya..

"Tolong, antar aku!" matanya masih berkaca, hujan dipelupuk matanya, tidak kunjung reda. Justru semakin deras. Hatinya terasa remuk redam. Kesedihannya semakin memuncak. Tangisnya semakin sedu-sedan.


Dika, hanya terdiam, membiarkan ia menangis. Tanpa berkata sepatah katapun. Hatinya patah, sayap-sayap pengharapan tentang cintanya dipatahkan begitu saja. 


Dika, menghentikan laju motornya di sebuah taman dekat Univetsitas Indonesia, "Sudah jangan menangis lagi! Saya, tahu. Hatimu sedang berduka. Jangan terlalu meratapi seberapa perihnya, hatimu. Air matamu tidak pantas di curahkan untuk orang yang sudah menghianati, kamu. Lelaki yang sudah tega menduakan hatimu. Resiko mencintai dan di cintai, begitulah. Kamu harus menerima dengan dada lapang. Meski teramat sakit. Tapi, percayalah! Setiap luka adalah belajaran, hidup kamu tidak akan berhenti disini. Akan banyak bahagia yang mungkin, sedang menunggu kamu di luaran sana. Jadikan, air matamu itu pantas untuk orang yang kelak mencintaimu dengan tulus. Jangan dibuang sia-sia. Toh, dia juga sama sekali tidak peduli dengan kesakitan hati yang kamu alami saat ini. Tersenyumlah!", ia menyeka bulir ari matanya dengan ujung jemarinya.

"Makasih, ya." 

Dika hanya membalasnya dengan senyum.



Lismiati

Selasa, 16 Juni 2015

Dimanapun dan Kapanpun, Asal Ada Kamu Aku Bahagia

Aku senang duduk berlama-lama begini denganmu. Walaupun di dalam kereta, sepanjang jalan kekampus rasanya aku tidak pernah bosan. Karena ada kamu di sisiku. Kita menceritakan apa saja, sesukanya dan senyamannya. Meski obrolan yang kita bincangkan hal yang tidak penting. Aku lebih sering memalingkan mukaku dari tatapanmu. Bukan karena aku tidak suka, tapi saat kedua mata kita bertemu, aku merasa gugup.  Iya sangat gugup.

Bukan hanya dengan kamu saja, tetapi kepada lelakiku yang dulu juga begitu. Tapi lama-lama nantinya aku juga akan memberanikan diri untuk tenggelam dalam di binar matamu. Mengeja segala aksara cinta dan juga rindu. Karena di sana aku menemukan sesungguhnya hatimu.

Di manapun, kapanpun jika denganmu aku tidak akan pernah merasa bosan. Sesekali di pasar becek sekalipun. Asal ada kamu di sisiku duniaku akan berubah indah. Waktu akan berjalan begitu cepatnya.

Aku suka saat kita duduk berdua, aku suka saat kita berjalan berdua, bergandengan tangan seperti semestinya.  Dan aku bahagia saat denganmu saja.

Senin, 16 Maret 2015

Kamu Selalu Mengeluh-eluhkan Hal Itu

Bukan bermaksud untuk keberatan, ketika kamu mengutarakan perasaanmu kepadaku, berbagi segala cerita asmaramu, tentang kegalau-galauan yang akhir-akhir ini kamu permasalahkan. Tentang sedih-sedih yang lebih banyak kamu utarakan. Sampai aku yang mendengarnya teramat kasihan dan mengiba.

Aku, pernah berada di posisimu sekarang. Kurang perhatian, terkadang merasa tidak pernah di anggap jika kita ada, atau disalahkan yang tidak-tidak.

Kamu memang mungkin teramat cinta. Tapi, cara pandangmu kian berbeda menurut logika. Kamu sering di buat luka. Tapi hatimu masih tetap memilih dia. Bahkan, dia buruk sekalipun. Aku juga tahu, cinta yang kamu miliki bukan seperti cintanya. Cintamu tulus apa adanya. Tidak kamu buat-buat sedemikian rupa. Entah dengan iba atau rasa kasihan seperti rasanya.

Kamu selalu bilang bla, bla, bla tentang dia. Dia yang jutek membalas pesan BBM-mu, dia yang terlalu mementingkan dunianya ketimpang kamu, dia yang selalu saja kurang peka dan perasa. Dan aku hanya bisa mengarahkan ke hal yang positif. Memberi masukan sebisanya. Yang mengerti tentang kebahagianmu, aku rasa hanya dirimu sendiri. Aku hanya sebagai orang yang mensuport kamu dari belakang. Asal menurutmu membahagiakan, lakukan saja. Tapi, jika selalu membuat luka dan merana, ada baiknya kamu tinggalkan.

Karena bagiku sendiri, seseorang yang mencintai kita dengan hati, dia tidak akan rela membiarkan orang yang dicintainya menangis bahkan terluka. Dia akan selalu menjaga perasaan terlembut yang wanita miliki. Selalu bisa peka dengan suasana. Bukan acuh atau masa bodo. Dia akan selalu peduli dan mengabarimu dalam sibuknya. Entah sekedar mengingatkan makan; misalnya.

Jadi, mulai sekarang jangan selalu mengeluh. Pahami hatimu lebih jeli. Agar kamu tahu bagaimana cara membahagiakannya. Dan kamu berhat untuk selalu bahagia. Dan pilihlah hati yang siap mencintaimu sampai nanti. Tidak untuk sekedar meluka begitu lara. Dan semoga kamu lekas paham dan mengeri apa pinta hatimu sendiri. Yang terbaik akan untuk yang terbaik. Dan yang di pilih untuk menetap, dia akan selalu menetap. Tetapi, jika dia di takdiri untuk pergi, kamu harus siap hati.


Minggu, 08 Maret 2015

Apa Yang Kamu Genggam Erat Tidak Selamanya Akan Menetap

Saat kamu benar-benar memutuskan untuk pergi, aku rasa aku telah benar-benar gila. Aku masih belum bisa sepenuhnya merelakan kamu untuk dia. Aku masih dalam kepiluan. Dadaku setiap hari menyesak.

Bahkan, kamu tidak peduli saat aku terpuruk seperti itu. Kamu justru pergi meninggalkan aku, menyakiti aku. Tanpa kamu sadar, bahwa yang kamu sakiti itu hati. Bukan boneka yang bebas dan puas kamu jadikan mainan.

Kamu pernah memanggilku sayang. Lalu kamu memberiku harapan. Aku seperti dijadikan seperti layangan, yang bebas kamu tarik ulur sepuasnya. Kamu tidak lagi melihat ke arahku. Tapi, kamu malah melihat kearahnya. Setelah aku benar-benar mencintaimu, lalu kamu pergi dengan percuma.

Awalnya, bagiku mungkin berat untuk melepaskan apa-apa yang telah aku genggam. Aku telah menggenggam hatimu dengan seerat mungkin. Tapi, setelah beberapa bulan aku lewati dengan kesedihan. Aku sadar, bahwa apa yang telah kita genggam, tidak selamanya akan kita genggam. Ia akan pergi meninggalkan. Dan tugas kita hanya melepaskan. Lalu berbahagia dengan kehidupan yang baru.

Seperti aku sekarang, sekarang aku sudah bahagia dengan kehidupan baruku. Meski tanpa lagi adanya kamu disisiku. Dan aku masih melayangkan doa-doa kebahagian di sepertiga malam untukmu dan juga untuk dia. Agar kamu dan dia bahagia. Begitu juga dengan aku, saat kamu tinggali dengan keadaan terluka.

Rabu, 25 Februari 2015

Dan Aku Pernah Mencintaimu Dengan Tabah

Kau ingat? Sabarku dalam mencintaimu? Apa kamu mengingat itu? Hey!! Hadap kesini, tatap mataku. Kamu jangan seperti pecundang yang selalu gampang mempermainkan hati. Mempermainkan perasaan dan membolak-balikannya. Kasihan.

Aku ini kurang tabah seperti apa? Aku ini kurang sabar yang seperti apa? Kalau pun aku mau, aku akan menuntutmu perihal sakit dan kelunya hatiku. Dan lagi-lagi aku terlalu bodoh. Sebegitu mencintaimu, hingga aku lupa bagaimana cara untuk membahagiakan hatiku.

Kamu itu lelaki sialan! Lelaki bangsat yang pernah singgah dan menetap di hatiku. Kamu bahkan tidak punya hati atau rasa kasihan. Aku miris dengan diriku sendiri. Aku yang selalu saja kamu bohongi, dan anehnya aku masih saja mempercayaimu. Aku terlalu mencintaimu. Hingga aku tidak tahu mana yang baik dan tidaknya. Logikaku tertutup dan buta.

Hitung saja, berapa banyak wanita yang sudah kamu jadikan selingkuhan? Hitung saja seberapa banyak bohongmu terhadapku. Dan aku tetap mempercayaimu bukan? Iya karena dulu aku terlalu bodoh. Aku yang selalu mendengarkan kata-katamu. Bukan mendengarkan kata sahabatku yang lebih tahu kamu. Itu karena apa? Seharusnya kamu tahu, itu karena rasa percayaku teramat besar kepadamu. Bahkan aku tidak peduli dengan kata mereka yang selalu merendahkanmu. Itu semua karena percayaku.

Tapi, kamu tidak peka. Kamu justru dengan gampangnya pergi. Tanpa melihat ke arahku yang sudah terlalu parah kamu sakiti. Bahkan hatiku sudah kamu jatuhkan berkeping. Kamu pergi seperti orang yang tidak punya dosa dan tidak punya salah. Kamu pergi seenaknya dan datang juga sesukanya.

Hey! Hatiku ini bukan taman yang bisa seenaknya kamu buat untuk mainan. Hatiku ini punya rasa. Bukan mati seperti batu. Dan kamu tidak berhak untuk menyakitinya lagi. Dulu, aku sudah sebegitu tabah mencintaimu, tapi tidak untuk sekarang. Sekarang aku mencintai dengan logika bukan dengan hati yang selalu kamu jadikan luka. Semoga kamu tahu dan mengerti bagaimana rasa sakitnya aku dulu. Hati yang kamu runtuhkan kini sudah pulih walaupun tidak sebegitu sempurna. Semoga kamu lebih bisa dan tahu tata cara menghormati hati seorang wanita yang mencintaimu. Jangan terus menyakitinya lagi. Biarkan aku saja yang terlanjur luka. Biarkan aku saja yang terlanjur patah; dulu. Karena dulu aku mencintaimu dengan tabah.

Aku Iri Dengan Kalian Yang Bisa Jadi masih di Sayang

Seperti biasa, sepulang pulang dari kampus aku selalu mengurung diri di kamar. Merebahkan tubuhku ke atas ranjang kesayanganku. Menatap langit-langit kamar, berbicara dengan fikiran yang penat. Lalu menangis kesekian jam.

Aku mempunyai orang tua yang masih utuh, tetapi rasanya tidak memiliki mereka. Aku seperti hidup sendiri di dalam hutan belantara atau di sebuah gua yang terletak di pedalaman hutan. Sepi dan senyap. Mereka bahkan sama sekali tidak menganggapku ada. Atau mengakui aku sebagai anaknya. Aku seperti yatim piatu. Seperti anak yang di buang lalu hilang tanpa kasih sayang.

Aku kadang juga iri terhadap mereka yang selalu saja di monitoring kegiatan setiap harinya. Bukan seperti aku, aku yang apa-apa sendiri. Mereka selalu saja bertengkar. Tanpa lagi menghormati bahwa di rumah ini ada aku; anaknya.

Aku tidak butuh berdebatan kalian, aku juga tidak butuh cekcok kalian. Aku hanya butuh sedikit kasih sayang juga perhatian. Sekedar mengingatkan makan; misalnya. Kalian tidak mempunyai itu sebagai orang tua. Kalian terlalu sibuk beradu argumen. Kalian egois memikirkan ego kalian masing-masing.

Entah aku terkujur sakit atau bahkan mati sekalipun kalian juga tidak akan peduli. Karena pada intinya aku tidak pernah di anggap ada. Kalian bahkan tidak tahu menahu tentang sakit yang aku derita. Lagi-lagi kalian terlalu sibuk. Dan aku menjadi korban. Jika terus saja begini, bunuh saja aku anakmu. Matikan aku. Biar aku menjadi mayid yang tak berdaya. Agar kalian puas. Agar kalian lega. Dan aku juga tenang. Aku tidak lagi memaki kalian. Aku tidak lagi membenci kalian yang mengurangi perhatian. Dan aku tenang, tidak lagi hidup dalam pesakitan.

Andai kalian paham aku tersiksa. Andai kalian paham bagaimana aku berjuang. Andai kalian tahu aku menahan kesepian. Andai kalian tahu mah, pah....


😂😂😂

Selasa, 24 Februari 2015

Saat Kita Sama-Sama Saling Sibuk

Hari ini aku tidak mau galau, atau bicara tentang cinta. Tetapi, kali ini aku akan mengenalkan tujuh sahabatku yang bisa di bilang jaim, kocak, norak, dan kampungan. Tapi mereka semua asyik. Dan aku menulis ini saat aku sedang rindu dengan mereka. Dimana kita semua sama-sama saling sibuk. Untuk kumpul bersama atau nongkrong saja sudah teramat susah. Waktu kita tidak lagi seperti dulu, pas masa-masa SMA.

Oke, aku bakal ngenalin mereka satu-satu. Pasti kalian pada penasaran gimana jaimnya sahabat aku yang kampungan. Bagi aku sendiri, sahabat tidak harus gaul atau apa lah. Yang terpenting jaim dan konyol. Karena dua faktor itu yang membuat aku selalu nyaman dan bahagia. Bahkan aku sering kali terhibur.

Yang Pertama :
Namanya sih, Santi Dahlia. Dia berasal dari kota kuda; Kuningan. Akrab di panggil ibu negara. Nama itu sendiri, aku juga tidak begitu paham dari mana asal mulanya. Yang terpenting unik. Bagi aku sendiri pastinya.
Ibu negara ini adalah salah satu dari kami bertuju yang jago banget ngelawak. Dia anaknya yang blak-blakan, suka jatuhin orang. Tapi dalam hal yang positif. Sekali tidak suka dia tidak memiliki toleran. Baik pastinya. Dan satu lagi, ibu negara ini tidak pelit. Suka memberi. Dia hobbi kentut sembarangan. Di situ keasyikan kita. Selalu terbuka dan apa adanya. Umurnya mungkin masih muda, tapi pemikiranya dewasa. Dan aku suka.
Dia juga menjadi pemenang LDR yang paling tabah dan sabar. Setianya tiada batas. Awett, romantis dan rukun selalu. Dia tidak seperti aku dan yang lainnya. Dimana aku sering gonta-ganti pasangan, dia tetep itu-itu aja. Dan dia curang, dia sudah di lamar duluan. Dan aku masih saja tertinggal. Hahaha. Tapi tidak masalah, yang terpenting bahagia. Dan aku rindu kamu ibu negara. *hug*

Yang Kedua:
Namanya Tari, akrab di panggil cablak. Dia dari Pekalongan punya. Atau lebih terkenal dengan sebutan kota batik. Anaknya yang selengehan, bergaya cowo, jago karate pastinya. Setiap jalan-jalan kemanapun, aku tidak merasa takut dengan dia. Dia menjadi pelindung kita.
Tapi dia lucu, dia penakut kucing yang imut. Setiap kali melihat hewan lucu satu itu, dia selalu saja heboh. Dan dia paling rame di antara kita bertuju. Tentunya setelah ibu negara.

Yang Ketiga:
Wanita satu ini bisa jadi paling feminim, paling tegas dari kita. Tetapi oh tetapi, dia sebetulnya cengeng. Namanya: Dian Irmawati. Akrab di panggil cunong. Dia berasal dari Kota Bahari Tegal. Dia ini unik, yang cunong itu pipinya. Atau bisa juga di bilang bakpao. Tapi aku lebih suka memanggilnya cunong. Lucu.

Yang Keempat:
Kalau ngomongin anak satu ini, semua pasti memasang muka masam. Di mana yang lain sudah sampai C dia masih di A. Hahaha. Dia ini tulalitnya tidak mempunyai toleran. Tulalitnya banget. Namanya juga paling panjang sendiri. Jangan di sebutin deh.! soalnya terlalu panjang. Namanya: Agustin Dyah Ayu Riahsari.
Paling serakah kan? Namanya lima orang dia pakai sendiri. Dia sama seperti Tari. Dari Pekalongan, Kota Batik.
Tulalit ini, bisa di bilang paling religius. Kemana-mana selalu pakai rok. Hijabnya tidak pernah ketinggalan. Maklum sudah istiqomah lahir batin. Kalau aku sendiri, ibu negara, Cablak, Tengging, Miss galau, masih setengah-setengah. Belum plus banget. Hahaha. Sedangkan tulalit sama cunong ini, sudah lahir batin.

Yang Kelima:
Dia ini, tidak sedih, tidak bahagia selalu saja galau. Namanya juga miss galau. Nama aslinya Royati. Dia berasal dari Kota Kuda, Kuningan. Orang sunda sama seperti ibu negara. Dia calon pengacara. Cantik. Dan dia paling fasion di antara kami bertuju. Dia juga bisa jadi paling muda. Paling manja. Kalau nungguin dia ngomong itu lama banget. Pelan banget ngomongnya. Tapi istimewa.

Yang Keenam:
Huummm....
Aku sedih jika harus bercerita sahabatku satu ini. Dia tidak lagi bersama kita. Kita berpisah dari lulus SMA. Dia lebih memilih perintah orang tuanya. Dia melanjutkan kuliah di kota Cirebon. Dimana aku dan yang lainya memutuskan untuk kuliah bersama pada satu kampus yang sama, dia malah memilih pisah. Dan aku sangat rindu dengan wanita satu ini. Dia memilih farmasi untuk di dalaminya.
Namanya Ikfa atau tengging. Wanita ini mengalami banyak perubahan. Tidak lagi seperti dulu, gayanya yang seperti preman sekarang justru alim dan cantik. Berhijab dan memakai rok. Yang cara bicaranya tidak tertata, sekarang lebih tertawa. Pokoknya dia berubah drastis. Tetapi aku tetap rindu denganya. Dan aku suka dengan perubahanya. 😃

Dan yang terakhir aku sendiri. Untuk pendapat biar teman-teman yang menilai. Tapi yang pasti orangnya baik, ramah dan cantik. *pede gilanya kumat* 😝

*****

Sejak kita semua sama-sama sibuk dengan dunia kita, kita jarang sekali bertemu atau jalan-jalan seperti dulu. Waktu kita terbagi. Dan aku rindu pada masa kita kumpul bersama, berbagi lelucon yang kadang sering kali garing, makan bersama di nasi padang, jalan-jalan ke mall bersama. Kita itu bisa di bilang seperti segerombolan anak TK. Kemana-mana selalu bertuju. Dan itu dulu. Sekarang kita sendiri-sendiri. Waktu cuti kerja kita kadang tidak sama. Setelah lulus SMA kita benar-benar di uji. Dari segi kekompakan dan kekeluargaan.

Kalian kangen gak sih masa-masa kita dulu yang selalu asyik.?
Aku rindu gays masa-masa itu. Kita yang sering tertawa lepas, kita yang jaim, kita yang selalu kampungan. Kita yang selalu heboh di kelas, kita yang paling rame. Aku kangen masa itu.

Kalian sadar tidak? Sebentar lagi mungkin kita akan menjadi mahasiswa, seperti Ikfa teman kita yang lebih dulu memutuskan meninggalkan tujuh sekawan. Kita akan benar-benar di sibukkan oleh perkuliahan. Kita akan mempunyai teman-teman baru. Lingkungan yang juga baru.

Aku jujur takut, kita tidak bisa sama-sama lagi. Kita lupa dengan siapa diri kita dulu. Sahabat yang lebih dari sahabat, keluarga yang lebih dari keluarga.

Semoga setelah nanti kita sama-sama sibuk, kita tidak lupa dengan siapa kita. Kita selalu bersama, konteks atau hubungan kita jangan sampai terputus gara-gara kita punya teman baru. Seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Semoga kita bukan yang seperti itu. Justru kita akan selalu dekat. Kita harus mencari tempat makan yang asyik untuk kita nongkrong sepulang kuliah, tempat untuk berbagi cerita penat. Agar kita  selalu erat. Agar kita tidak selalu lupa. Semoga.

Semoga kalian mengerti tentang ini. Tentang aku yang rindu bersama kalian. Tentang aku yang takut kehilangan kalian. Mencari sahabat yang konyol seperti kalian itu susah. Aku sayang kalian gays. *hug*


I miss you😍

Rabu, 11 Februari 2015

Jangan Terlalu Menghayati

Ini tentang perspepsi cinta, terkadang orang lebih banyak menghayati cinta bukan menikmatinya. Dan pada akhirnya menimbulkan sakit yang teramat parah. Semakin hari, semakin menghayati justru akan memperkeruh keadaan nantinya. Kamu tidak bisa menerka apa yang esok akan terjadi. Jangan selalu berniat memiliki hati seseorang yang kamu cintai dengan seutuhnya. 

Terkadang saat kita mencintai seorang dengan perasaan ingin memiliki seutuhnya, justru pada saat proses melepaskan nantinya, bisa jadi itu adalah hal yang teramat susah. Ini sedang berbicara jauh dari kata PUTUS.

Seperti aku sendiri, aku pernah di suatu keadaan yang benar-benar terobsesi ingin memilikinya seutuhnya. Setelah putus, justru sakit yang mendalam aku rasakan. Melupakan memang tidak secepat kilat. Melupakan tidak semudah mengedipkan mata. Jauh lebih rumit dan susah dari itu.

Dan berhari-hari aku menghayati pesakitan yang melanda. Sendiri. Bahkan aku hampir menggila. Hampir hilang kewarasan saat itu. Tapi, saat belajar menikmati bukan terlalu menghayati, sakit yang melanda kian hari kian surut. Aku menikmati sendiriku. Aku menikmati hari-hariku. Dengan berusaha sebahagia mungkin, akupun selalu mencari kesibukan apa pun yang membuatku sedikit lupa. Menikmati setiap harinya waktu yang berjalan. Tidak menyangkutpautkan dia lagi di list jadwal pekerjaan hariku. Setiap harinya aku berusaha menikmati kesibukanku, bukan menghayati. Karena apa-apa yang di hayati kadang lebih menusuk dan berbeda dengan menikmati. Dimana kita mempunyai hati yang tulus untuk menjalaninya. Keikhlasan tanpa adanya sebuah paksaan.

Berhari-hari, berbulan-bulan, aku menikmati itu semua. Hingga akhirnya secara tidak sadar, dia bukan lagi yang sibuk di kepalaku, dia tidak lagi memenuhi seisi hatiku. Dia bukan lagi list nama orang yang aku rindukan. Dan aku berhasil menikmati sakit dengan sibuknya hariku. Dan ingat bukan menghayati. Tapi menikmati. 

Bahagiamu bukan selalu datang pada satu orang, hanya saja kadang kamu yang mencoba terlalu pintar meramal. Kamu menentukan bahagiamu dengan dia. Yang kadang ternyata bahagia datang dari kiblat manapun dan sesukanya. Hanya saja kamu terlalu menghayati satu arah, hingga kamu lupa menikmati bahagia-bahagia yang lain. Percaya, hati yang tidak lagi utuh saat kamu benar-benar menghayati keadaan tersebut, hatimu akan semakin runtuh. Tidak akan pernah utuh dan tidak akan bisa melepaskan. Tapi nikmatilah segala sesuatunya dengan keikhlasan. Bahagiamu akan hadir bertubi-tubi.
Selamat bahagia dan selamat move on. Semoga lekas bahagia dari luka.



Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...