Beberapa jam kemudian, hari Senin akan berlalu. Ku ingin mengemas rindu pada lubang saku baju. Akan aku letakkan di lemari-lemari bersama baju-baju bekas pelukanmu yang lalu. Esok, jika aku rindu, maka akan kukenakan satu-satu peninggalanmu itu.
Tiba-tiba aku tersekat. Seperti ada yang mencekik leherku. Menusuk di dadaku. Saat perihalmu pulang tanpa sadar. Harusnya, aku mulai belajar memahami. Bahwa, perihalmu sudah lama berlalu pergi. Tidak ada lagi kata perihal kita. Tidak ada cemas yang meski dirasa.
Aku terus memacu langkahku yang gontai. Menyeimbangkan semuanya. Berharap semuanya akan kembali baik-baik saja, sejak engkau memilih untuk tidak menjadi siapa-siapa dikehidupanku, harusnya semua biasa-biasa saja. Bukan malah menyesakkan dada.
Belajar menghela napas itu menyesakkan. Sama menyesakkannya dengan melepas semua ingatan tentangmu.
Aku ingin melupakan engkau, lantas pulang pada rumah yang akan membuatku tenang. Pada rumah yang membuatku terus tumbuh tanpa runtuh. Pada mata yang membuatku teduh. Pada lengan yang selalu menopang. Pada langkah yang beriringan. Pada pemikiran yang tidak sama tetapi saling paham. Pada rasa yang selalu mengerti.
Hingga aku tak ingin beranjak untuk pergi, lagi. Menjadi angka yang selalu genap, mengutuh, lengkap. Dan berarti.