Senin, 28 Mei 2018

Setelah Pergimu, Aku Ingin.

Beberapa jam kemudian, hari Senin akan berlalu. Ku ingin mengemas rindu pada lubang saku baju. Akan aku letakkan di lemari-lemari bersama baju-baju bekas pelukanmu yang lalu. Esok, jika aku rindu, maka akan kukenakan satu-satu peninggalanmu itu. 

Tiba-tiba aku tersekat. Seperti ada yang mencekik leherku. Menusuk di dadaku. Saat perihalmu pulang tanpa sadar. Harusnya, aku mulai belajar memahami. Bahwa, perihalmu sudah lama berlalu pergi. Tidak ada lagi kata perihal kita. Tidak ada cemas yang meski dirasa. 

Aku terus memacu langkahku yang gontai. Menyeimbangkan semuanya. Berharap semuanya akan kembali baik-baik saja, sejak engkau memilih untuk tidak menjadi siapa-siapa dikehidupanku, harusnya semua biasa-biasa saja. Bukan malah menyesakkan dada. 

Belajar menghela napas itu menyesakkan. Sama menyesakkannya dengan melepas semua ingatan tentangmu. 

Aku ingin melupakan engkau, lantas pulang pada rumah yang akan membuatku tenang. Pada rumah yang membuatku terus tumbuh tanpa runtuh. Pada mata yang membuatku teduh. Pada lengan yang selalu menopang. Pada langkah yang beriringan. Pada pemikiran yang tidak sama tetapi saling paham. Pada rasa yang selalu mengerti. 

Hingga aku tak ingin beranjak  untuk pergi, lagi. Menjadi angka yang selalu genap, mengutuh, lengkap. Dan berarti. 

Selasa, 22 Mei 2018

Kau Tampak Biasa

Dihari-hari patah, berbulan-bulan aku terus belajar bagaimana caranya agar luka di hatiku sembuh. Berhenti mengingatmu adalah sebuah keharusan. Kepergian yang terus merapalkan tangis pada malam yang penuh kesunyian. Tak mudah. Akupun mulai lemah. Pada ingatan yang terus singgah tanpa henti. 

Terkadang aku rindu pada hal yang biasa kita lakukan bersama. Tentang hal-hal yang membuat kita tertawa dengan renyahnya. Tentang ruang kita yang penuh harapan yang akhirnya pudar seketika. 

Akupun mulai menyerah. Tangis-tangis terus berlinang. Kau meremas segala bahagia kita yang awalnya kentara. Kau menjadi sekat jalanku untuk terus maju tanpa henti. Aku berpacu bersama ingatanmu yang tak kunjung mereda di ingatanku. 

Aku terluka, sedang kau tampak biasa. Aku yang menggenggammu terlalu erat. Kau melepasku dengan suka cita. 

Aku benci kehilangan. Aku benci kau yang datang hanya untuk mempermainkan. 

Setelah itu, aku belajar menguatkan hati. Menatanya kembali. Belajar merangkak, berjalan, dan akhirnya aku bisa berlari. Untuk tetap berdiri tanpamu lagi. 

Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...