Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jakartakota berlalu lalang tiap 5 menit sekali. Stasiun riuh, orang-orang memburu waktu. Aku masih duduk mematung sembari mendengarkan lagu. Pagi ini "Malibu Night" dari Lany mengalun di telingaku.
Aku masih belum mau beranjak untuk melanjutkan perjalananku pergi bekerja. Ini masih terlalu pagi, aku pikir menunda 15 menit tidak jadi masalah.
Aku terus memandangi peron arah Bogor. Pikiranku sepenuhnya kosong. Aku menghela napas yang cukup panjang. Aku ingat hari-hari ketika ibu masih ada di sampingku. Sudah di April yang hampir usai. Bulan depan adalah 100 harian ibu. Ahh....rasanya baru sehari ibu pergi dari rumah untuk berkeliling kota.
Ternyata pada saat itu juga ibu tak pernah kembali ke rumah. Ibu tak lagi pulang untuk memasak. Tidak ada lagi suara cerewet ibu di rumah. Tidak ada pelukan ibu di hari-hari yang sangat melelahkan. Rumah sudah mulai terasa sepi. Tidak ada lagi wangi masakan ibu. Perabot rumah mulai berdebu seiring waktu kepergian ibu.
Mataku kembali berkaca di tengah riuh stasiun kota. Aku menahan dadaku yang tiba-tiba terasa sesak. Bibirku mulai bergetar menahan tangis yang hampir pecah.
Tahun 2026 banyak hilangnya. Aku kehilangan sebagian diriku yang utuh. Hatiku remuk.
Bukan hanya aku yang remuk, tetapi Bapak juga masih sangat terpukul hingga hari ini. Separuh jiwanya pergi untuk selama-lamanya.
Bapak sering kali masih menangisi ibu di dapur. Tubuhnya kehilangan banyak berat badan. Matanya masih terlihat lelah. Rambutnya kusut. Matanya banyak sekali kesedihan jika kutatap dalam-dalam.
Seringkali terbayang, ibu sedang sibuk apa di surga?? Apa tempat tinggalnya yang baru lebih membuat ibu bahagia?? Apa ibu masih sering kesakitan di sana??

