Hari ini, aku ingin melarikan diri ke toko buku di salah satu kota Depok. Menyibukkan diri selama liburan kuliah berlangsung. Lumayan, untuk menghilangkan kepenatan. Rasanya sudah cukup lama aku tidak pernah berkunjung ke Gramedia Depok. Salah satunya, karena aku selalu pulang kuliah sore. Tubuh sudah terlalu ringkih, hingga memutuskan untuk merebahkan tubuh yang lelah di rumah. Tanpa ingin kemana-mana.
Aku akan membaca beberapa buku di sana, menyibukan hati agar lekas bisa berlari dari perih luka yang akhir-akhir ini membebani kepalaku. Sedih yang lebih sukar diutarakan, perih yang lebih susah untuk diluapkan. Dan kenangan yang lebih rumit untuk sekedar dilupakan. Rindu yang kutanam tumbuh mengkar, melilit tubuhku.
Aku masih memilih buku, buku mana yang akan aku baca di sini. Setelah mencari, aku tertarik dengan sebuah novel romance. Yang ditulis oleh Tere Liye 'Rindu'. Novel ini jelas-jelas menyindirku bukan main. Aku yang sedang rindu dengan seseoeang, lantas menyipitkan mata ingin tahu.
Aku duduk di bagian paling pojok toko buku, berdampingan dengan pembaca lainnya. Membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, halaman demi halaman, lantas bab demi bab. Aku masih fokus dengan bacaanku. Meski mata mulai perih, novel ini belum juga hatam aku baca. Aku mulai menggerakkan tubuhku yang mulai kaku, sudah setengah hari lebih aku berkutat di toko buku ini. Tinggal satu, dua bab lagi. Aku memutuskan untuk segera menyelesaikannyaa.
Setengah jam berlalu, mata mulai letih dan mengantuk, perut mulai lapar. Aku beranjak keluar dari lantai dua dari toko buku tersebut. Di luar mendadak hujan sangat deras sekali. Air mulai masuk keteras-teras terbawa oleh angin. Aku berdiri tertegun melihat jalanan protokol kota Depok. Jalan Margonda terlihat sangat padat. Aku menghela napas yang mulai terasa berat. Memandangi hujan serta berharap agar segera mereda. Hujan masih membungkus kota Depok.
Hampir setengah jam menunggu, hujan belum juga reda. Aku menyeka dahi yang terkena cipratan air hujan. Aku berdiri menunduk, menikmati musik dari earphone yang terpasang di telingaku. Melihat ke arah jam tangan. Sudah jam empat sore.
As Long As You Love, miliknya Justin Bieber versi akustik masih mengalun indah di telingaku. Aku merasa mulai bosan, lantas berjalan keluar dari toko buku, hujan masih turun. Aku mencoba menerobos butiran air hujan yang lumayan membuat cardigan yang aku pakai basah. Sepatu converse berwarna abu-abu yang aku pakai pun mulai terkena tempias hujan.
Aku duduk paling pojok, lagi-lagi aku memilih di pojok. Karena di pojok angkutan umum aku bebas memejamkan mata untuk beberapa menit. Aku terkejut, dahi mulai berkerut. Tiba-tiba lelaki dengan postur tubuh tinggi duduk di sampingku. Aku mengenalinya. Sangat mengenalinya.
Dari mana dia tahu aku di dalam angkutan kota ini, apa dia diam-diam menguntitku? Aku mengatur mulut, menata kata apa yang akan aku keluarkan. Nada detak jantung terasa mulai cepat. Tanganku mulai basah, berkeringat. Aku tidak pernah merasa setakut ini. Untuk sejenak aku diam dan menelan ludah.
"Hendra," aku memastikan bahwa aku tidak salah menyebut nama, memastikan kalau itu memang dia.
"Alena, iya ini aku." Dia mulai menatapku dengan tidak biasa.
Sejak kapan lelaki ini berada di kota yang aku tempati empat tahun terakhir, ini? Bagaimana dia tahu. Susah payah aku melarikan diri ke kota ini. Belajar melupakannya, menghapus segalanya. Menumbuhkan harapan-harapan yang baru. Dari mana dia tahu aku di kota ini? Aku tidak pernah memberitahu siapapun, terkecuali Irma, sahabatku. Mama juga Ayah.
Aku mengalihkan tatapannya, ada hati yang tiba-tiba terasa tertusuk. Tatapan mata itu masih sama. Wajah itu masih sama tidak ada yang berubah. Hendra masih sama dengan Hendra yang dulu. Sosok yang membuatku kagum. Dia lelaki yang asyik untuk berbicara banyak hal, dia lelaki yang pandai memainkan alat musik, suara yang merdu saat bernyanyi.
Hendra, mengajakku ke sebuah cafe di pinggiran jalan protokol kota Depok. Aku menurutinya. Kebetulan aku juga teramat lapar. Setelah memesan makanan, Hendra mulai berbicara. Aku masih menunduk. Membenarkan letak kaca mata.
"Alena," suara seraknya mulai menguap di udara, membuat jantungku tidak berhenti untuk cemas, "Maaf, aku baru menyusulmu sekarang, kenapa kamu pergi begitu saja? Bahkan tanpa memberi tahuku mengenai kepindahanmu ke kota ini.?" Tangannya masih meraih tanganku, menggenggamnya sangat erat, mendongakkan kepalaku agar mataku menatapnya. Lagi-lagi aku masih tertunduk.
Aku menatapnya sungkan. Bibirku terasa kelu untuk menjawab semua asumsinya. Sudah jelas-jelas aku ingin melupakanmu. Hatiku memberontak, menangis tanpa suara. Selere makanku mulai hilang.
"Alena, jawab! Kumohon? Apa benar, kata Irma, kamu ingin melarikan diri dariku.? Kamu mengagumi dan menyayangi aku lebih dari seorang teman. Maafkan aku, Alena. Aku baru menyadarinya sekarang." Dari guratan matanya, terlihat penyesalan yang teramat dalam. Dia mulai mendesakku dengan pertanyaan gila itu.
Aku masih tersekat. Ini sangat menyakitkan, Hendra. Empat tahun aku bersusah payah melupaknmu, berusaha agar tidak semakin membencimu dan memaki perempuan itu. Aku berusaha membunuh semuanya. Mengembalikan hatiku agar tetap baik-baik saja. Kamu pikir semua itu mudah?, Melihat orang yang dikagumi dan dicintai, mencintai perempuan lain. Itu teramat menyesakkan. Berhari-hari aku menahan cemburu. Berhari-hari aku berpura-pura baik-baik saja. Namun, aku kalah dengan rasa sakit yang begitu memenuhi hatiku. Aku memilih menyerah dan pergi.
Mungkin salahku, tidak mengungkapkan perasaanku padamu. Aku terlalu menunggu hingga kamu mengungkapkan kalimat itu kepadaku. Justru harapanku salah. Kamu mencintai wanita lain. Buat apa kedekatan kita selama ini? Bukankah kita lebih dari kata teman. Kedekatan kita sudah tidak lagi sehat. Aku mau kau cium keningnya, menghabiskan malam ditelepon, menghabiskan hari-hari berdua. Kita terlihat seperti sepasang kekasih. Namun pada kenyataanya, kita hanya sebatas kata teman. Itu menjijikan, Hendra. Aku terlihat sangat konyol dan munafik dengan semua perasaanku.
Kesakitan hatiku mulai memuncak, saat kamu memilih untuk menjadi kekasih perempuan itu. Hatiku pelan-pelan hancur. Semakin hari aku tidak kuat lagi. Hatiku terasa sakit sekali. Aku sudah tidak kuat lagi pada saat itu, Hendra. Dan aku memilih jalan untuk pergi dari kotaku. Kota yang telah membunuh segala harapanku untuk bersamamu.
Aku masih diam, tidak lagi memperdulikan ceramahmu. Aku mengabaikannya.
Kamu tetap Hendra yang keras kepala, kamu tetap memojokkan aku dalam situasi hujan begini. Rasanya, aku ingin menyelimuti hatiku dengan kain tertebal di seluruh dunia. Hatiku mulai dingin dan gigil.
Hujan terus turun di luar. Sesekali petir menyambar, cahaya terangnya masuk melalui jendela kafe. Di susul geledek menggelegar. Aku menatap wajahnya lamat-lamat, diam sebentar. Berusaha mengumpulkan tenaga agar mata yang mulai memanas tidak lantas gugur berjatuhan membasuh sudut pipi. Lantas aku mulai berbicara.
"Kemana saja kamu selama ini, Hendra.? Kenapa kamu tidak lantas mencariku.? Kenapa kamu justru berbahagia dengan perempuan itu. Berhahaha dan hihihi di luar sana. Sedang aku,...." suaraku mulai tercekat, aku terisak," Sedang aku merasakan sakit yang tiada tara. Berbulan-bulan aku belajar merelakan kamu. Menyalahkan diri sendiri. Karena resiko dari mengagumi tanpa dicintai itu teramat perih, Hendra. Kamu harus tahu satu hal itu."
Aku terdiam sejenak, mengatur napas, menyeka pipi, membuang ingus. Kafe lenggang sejenak. Cuma ada kita berdua di sana. Hujan masih membungkus kota Depok, langit semakin tumbang. Kafe masih sepi mlompong.
"Alena," Hendra berkata pelan, mengatur kata agar emosiku tidak lantas memuncak dan memanas.
Aku mulai memberanikan diri menatap matanya yang bulat. Tanganku masih dalam cenkramannya. Lantas, dia mulai memeluk tubuhku yang terisak. Aku tidak ingin sama sekali berusaha untuk meronta. Karena dalam keadaan marah dan cemas, perempuan selalu nyaman jika dipeluk. Perempuan selalu butuh ketenangan.
"Alena, ada beberapa hal yang tidak pernah kamu tahu. Aku memilih menjadi kekasih Devi karena beberapa hal yang teramat menyedihkan. Devi, adalah teman dari sepupuku, Dimas. Dia menderita kanker payudara. Di vonis dokter hidupnya tidak akan lama lagi, aku diminta untuk menjadi penyemangat hidupnya. Yang kebetulan Devi juga menyukai aku. Aku melakukannya terpaksa, Alena. Aku hanya ingin menolongnya. Setidaknya, dia bisa bahagia sebelum tuhan membawanya pergi untuk selama-lamanya."
Hendra terdiam sejenak, hatinya membatin; maafkan aku Devi. Aku minta maaf. Hatinya terus saja mengucap maaf. Baginya ini menyakitkan dan menyiksa hatinya. Mencintai karena rasa kasihan dan belas kasih. Andai kamu mendengar ini, kumohon jangan kutuk aku, Devi. Semoga kamu tenang di sisi Tuhan. Semoga, kamu mengerti posisiku.
"Hubungan aku dan Devi hanya bertahan enam bulan, Alena. Setelah itu Devi sakit keras, suhu badannya tidak lagi stabil. Kondisinya kritis. Setelah hampir dua minggu di rumah sakit. Pagi-pagi saat aku ingin membangunkannya, tubuhnya terasa sangat dingin. Bibirnya pucat pasi. Aku menemukannya dengan napas yang sudah tidak ada, Alena."
Hendra, terdiam sejenak. Meneguk moca float yang telah dipesannya satu jam yang lalu.
"Setelah kepergian Devi, aku akui, aku baru mencarimu. Irma, tante Rita, Om Aryo, tidak ingin memberi tahu di mana kamu sekarang. Aku mencoba menghubungi nomer kamu. Tidak aktif. Nomer itu sudah tidak dipakai lagi. Bahkan akun media sosialmu diblokir dan diganti semua."
Hendra menelan ludah, "Aku kehilangan informasi tentangmu. Setelah hampir tiga tahun lebih aku terus berusaha mencarimu, Irma memberi tahu semuanya. Baru dua hari yang lalu aku ke kota ini, Alena. Aku memantau akun sosial mediamu. Setelah kamu menulis sesuatu di time line, bahwa hari ini kamu akan ke toko buku. Aku lekas mencarimu. Sedari pagi, maaf aku memang menguntitmu. Aku mengumpulkan keberanian agar kamu bisa menerimaku. Sungguh,..." katanya terhenti, dia mengusap keringat di dahinya.
"Sunggguh, apa Hendra? Jawab hah?" Aku masih dengan egois yang penuh. Menatap matanya makin tajam. Memperhatikan alur napasnya yang mulai tidak stabil. Ada sesuatu tertahan di tenggorokannya.
"Sungguh, aku mencintai kamu, Alena." Matanya masih dengan tatapan meminta.
Suasana di cafe tiba-tiba lenggang, aku saling tatap dengannya. Dan, tanganku masih dalam cengkramannya. Ada perasaan sedih, marah serta bahagia menjadi satu. Bukankah aku mendamba kalimat itu yang terucap sejak dulu. Hari ini dia mengucapkannya dengan lantang.
"Maukah kamu menjadi wanitaku, Alena?"
Dengan senyum simpul, aku segera menyeka air mataku. Aku menerimanya dengan anggukan kepala yang penuh. Hujan semakin deras membungkus kota Depok. Hampir tidak pernah ingin mereda.