Kau ingat? Sabarku dalam mencintaimu? Apa kamu mengingat itu? Hey!! Hadap kesini, tatap mataku. Kamu jangan seperti pecundang yang selalu gampang mempermainkan hati. Mempermainkan perasaan dan membolak-balikannya. Kasihan.
Aku ini kurang tabah seperti apa? Aku ini kurang sabar yang seperti apa? Kalau pun aku mau, aku akan menuntutmu perihal sakit dan kelunya hatiku. Dan lagi-lagi aku terlalu bodoh. Sebegitu mencintaimu, hingga aku lupa bagaimana cara untuk membahagiakan hatiku.
Kamu itu lelaki sialan! Lelaki bangsat yang pernah singgah dan menetap di hatiku. Kamu bahkan tidak punya hati atau rasa kasihan. Aku miris dengan diriku sendiri. Aku yang selalu saja kamu bohongi, dan anehnya aku masih saja mempercayaimu. Aku terlalu mencintaimu. Hingga aku tidak tahu mana yang baik dan tidaknya. Logikaku tertutup dan buta.
Hitung saja, berapa banyak wanita yang sudah kamu jadikan selingkuhan? Hitung saja seberapa banyak bohongmu terhadapku. Dan aku tetap mempercayaimu bukan? Iya karena dulu aku terlalu bodoh. Aku yang selalu mendengarkan kata-katamu. Bukan mendengarkan kata sahabatku yang lebih tahu kamu. Itu karena apa? Seharusnya kamu tahu, itu karena rasa percayaku teramat besar kepadamu. Bahkan aku tidak peduli dengan kata mereka yang selalu merendahkanmu. Itu semua karena percayaku.
Tapi, kamu tidak peka. Kamu justru dengan gampangnya pergi. Tanpa melihat ke arahku yang sudah terlalu parah kamu sakiti. Bahkan hatiku sudah kamu jatuhkan berkeping. Kamu pergi seperti orang yang tidak punya dosa dan tidak punya salah. Kamu pergi seenaknya dan datang juga sesukanya.
Hey! Hatiku ini bukan taman yang bisa seenaknya kamu buat untuk mainan. Hatiku ini punya rasa. Bukan mati seperti batu. Dan kamu tidak berhak untuk menyakitinya lagi. Dulu, aku sudah sebegitu tabah mencintaimu, tapi tidak untuk sekarang. Sekarang aku mencintai dengan logika bukan dengan hati yang selalu kamu jadikan luka. Semoga kamu tahu dan mengerti bagaimana rasa sakitnya aku dulu. Hati yang kamu runtuhkan kini sudah pulih walaupun tidak sebegitu sempurna. Semoga kamu lebih bisa dan tahu tata cara menghormati hati seorang wanita yang mencintaimu. Jangan terus menyakitinya lagi. Biarkan aku saja yang terlanjur luka. Biarkan aku saja yang terlanjur patah; dulu. Karena dulu aku mencintaimu dengan tabah.
Rabu, 25 Februari 2015
Aku Iri Dengan Kalian Yang Bisa Jadi masih di Sayang
Seperti biasa, sepulang pulang dari kampus aku selalu mengurung diri di kamar. Merebahkan tubuhku ke atas ranjang kesayanganku. Menatap langit-langit kamar, berbicara dengan fikiran yang penat. Lalu menangis kesekian jam.
Aku mempunyai orang tua yang masih utuh, tetapi rasanya tidak memiliki mereka. Aku seperti hidup sendiri di dalam hutan belantara atau di sebuah gua yang terletak di pedalaman hutan. Sepi dan senyap. Mereka bahkan sama sekali tidak menganggapku ada. Atau mengakui aku sebagai anaknya. Aku seperti yatim piatu. Seperti anak yang di buang lalu hilang tanpa kasih sayang.
Aku kadang juga iri terhadap mereka yang selalu saja di monitoring kegiatan setiap harinya. Bukan seperti aku, aku yang apa-apa sendiri. Mereka selalu saja bertengkar. Tanpa lagi menghormati bahwa di rumah ini ada aku; anaknya.
Aku tidak butuh berdebatan kalian, aku juga tidak butuh cekcok kalian. Aku hanya butuh sedikit kasih sayang juga perhatian. Sekedar mengingatkan makan; misalnya. Kalian tidak mempunyai itu sebagai orang tua. Kalian terlalu sibuk beradu argumen. Kalian egois memikirkan ego kalian masing-masing.
Entah aku terkujur sakit atau bahkan mati sekalipun kalian juga tidak akan peduli. Karena pada intinya aku tidak pernah di anggap ada. Kalian bahkan tidak tahu menahu tentang sakit yang aku derita. Lagi-lagi kalian terlalu sibuk. Dan aku menjadi korban. Jika terus saja begini, bunuh saja aku anakmu. Matikan aku. Biar aku menjadi mayid yang tak berdaya. Agar kalian puas. Agar kalian lega. Dan aku juga tenang. Aku tidak lagi memaki kalian. Aku tidak lagi membenci kalian yang mengurangi perhatian. Dan aku tenang, tidak lagi hidup dalam pesakitan.
Andai kalian paham aku tersiksa. Andai kalian paham bagaimana aku berjuang. Andai kalian tahu aku menahan kesepian. Andai kalian tahu mah, pah....
😂😂😂
Aku mempunyai orang tua yang masih utuh, tetapi rasanya tidak memiliki mereka. Aku seperti hidup sendiri di dalam hutan belantara atau di sebuah gua yang terletak di pedalaman hutan. Sepi dan senyap. Mereka bahkan sama sekali tidak menganggapku ada. Atau mengakui aku sebagai anaknya. Aku seperti yatim piatu. Seperti anak yang di buang lalu hilang tanpa kasih sayang.
Aku kadang juga iri terhadap mereka yang selalu saja di monitoring kegiatan setiap harinya. Bukan seperti aku, aku yang apa-apa sendiri. Mereka selalu saja bertengkar. Tanpa lagi menghormati bahwa di rumah ini ada aku; anaknya.
Aku tidak butuh berdebatan kalian, aku juga tidak butuh cekcok kalian. Aku hanya butuh sedikit kasih sayang juga perhatian. Sekedar mengingatkan makan; misalnya. Kalian tidak mempunyai itu sebagai orang tua. Kalian terlalu sibuk beradu argumen. Kalian egois memikirkan ego kalian masing-masing.
Entah aku terkujur sakit atau bahkan mati sekalipun kalian juga tidak akan peduli. Karena pada intinya aku tidak pernah di anggap ada. Kalian bahkan tidak tahu menahu tentang sakit yang aku derita. Lagi-lagi kalian terlalu sibuk. Dan aku menjadi korban. Jika terus saja begini, bunuh saja aku anakmu. Matikan aku. Biar aku menjadi mayid yang tak berdaya. Agar kalian puas. Agar kalian lega. Dan aku juga tenang. Aku tidak lagi memaki kalian. Aku tidak lagi membenci kalian yang mengurangi perhatian. Dan aku tenang, tidak lagi hidup dalam pesakitan.
Andai kalian paham aku tersiksa. Andai kalian paham bagaimana aku berjuang. Andai kalian tahu aku menahan kesepian. Andai kalian tahu mah, pah....
😂😂😂
Selasa, 24 Februari 2015
Saat Kita Sama-Sama Saling Sibuk
Hari ini aku tidak mau galau, atau bicara tentang cinta. Tetapi, kali ini aku akan mengenalkan tujuh sahabatku yang bisa di bilang jaim, kocak, norak, dan kampungan. Tapi mereka semua asyik. Dan aku menulis ini saat aku sedang rindu dengan mereka. Dimana kita semua sama-sama saling sibuk. Untuk kumpul bersama atau nongkrong saja sudah teramat susah. Waktu kita tidak lagi seperti dulu, pas masa-masa SMA.
Oke, aku bakal ngenalin mereka satu-satu. Pasti kalian pada penasaran gimana jaimnya sahabat aku yang kampungan. Bagi aku sendiri, sahabat tidak harus gaul atau apa lah. Yang terpenting jaim dan konyol. Karena dua faktor itu yang membuat aku selalu nyaman dan bahagia. Bahkan aku sering kali terhibur.
Yang Pertama :
Namanya sih, Santi Dahlia. Dia berasal dari kota kuda; Kuningan. Akrab di panggil ibu negara. Nama itu sendiri, aku juga tidak begitu paham dari mana asal mulanya. Yang terpenting unik. Bagi aku sendiri pastinya.
Ibu negara ini adalah salah satu dari kami bertuju yang jago banget ngelawak. Dia anaknya yang blak-blakan, suka jatuhin orang. Tapi dalam hal yang positif. Sekali tidak suka dia tidak memiliki toleran. Baik pastinya. Dan satu lagi, ibu negara ini tidak pelit. Suka memberi. Dia hobbi kentut sembarangan. Di situ keasyikan kita. Selalu terbuka dan apa adanya. Umurnya mungkin masih muda, tapi pemikiranya dewasa. Dan aku suka.
Dia juga menjadi pemenang LDR yang paling tabah dan sabar. Setianya tiada batas. Awett, romantis dan rukun selalu. Dia tidak seperti aku dan yang lainnya. Dimana aku sering gonta-ganti pasangan, dia tetep itu-itu aja. Dan dia curang, dia sudah di lamar duluan. Dan aku masih saja tertinggal. Hahaha. Tapi tidak masalah, yang terpenting bahagia. Dan aku rindu kamu ibu negara. *hug*
Yang Kedua:
Namanya Tari, akrab di panggil cablak. Dia dari Pekalongan punya. Atau lebih terkenal dengan sebutan kota batik. Anaknya yang selengehan, bergaya cowo, jago karate pastinya. Setiap jalan-jalan kemanapun, aku tidak merasa takut dengan dia. Dia menjadi pelindung kita.
Tapi dia lucu, dia penakut kucing yang imut. Setiap kali melihat hewan lucu satu itu, dia selalu saja heboh. Dan dia paling rame di antara kita bertuju. Tentunya setelah ibu negara.
Yang Ketiga:
Wanita satu ini bisa jadi paling feminim, paling tegas dari kita. Tetapi oh tetapi, dia sebetulnya cengeng. Namanya: Dian Irmawati. Akrab di panggil cunong. Dia berasal dari Kota Bahari Tegal. Dia ini unik, yang cunong itu pipinya. Atau bisa juga di bilang bakpao. Tapi aku lebih suka memanggilnya cunong. Lucu.
Yang Keempat:
Kalau ngomongin anak satu ini, semua pasti memasang muka masam. Di mana yang lain sudah sampai C dia masih di A. Hahaha. Dia ini tulalitnya tidak mempunyai toleran. Tulalitnya banget. Namanya juga paling panjang sendiri. Jangan di sebutin deh.! soalnya terlalu panjang. Namanya: Agustin Dyah Ayu Riahsari.
Paling serakah kan? Namanya lima orang dia pakai sendiri. Dia sama seperti Tari. Dari Pekalongan, Kota Batik.
Tulalit ini, bisa di bilang paling religius. Kemana-mana selalu pakai rok. Hijabnya tidak pernah ketinggalan. Maklum sudah istiqomah lahir batin. Kalau aku sendiri, ibu negara, Cablak, Tengging, Miss galau, masih setengah-setengah. Belum plus banget. Hahaha. Sedangkan tulalit sama cunong ini, sudah lahir batin.
Yang Kelima:
Dia ini, tidak sedih, tidak bahagia selalu saja galau. Namanya juga miss galau. Nama aslinya Royati. Dia berasal dari Kota Kuda, Kuningan. Orang sunda sama seperti ibu negara. Dia calon pengacara. Cantik. Dan dia paling fasion di antara kami bertuju. Dia juga bisa jadi paling muda. Paling manja. Kalau nungguin dia ngomong itu lama banget. Pelan banget ngomongnya. Tapi istimewa.
Yang Keenam:
Huummm....
Aku sedih jika harus bercerita sahabatku satu ini. Dia tidak lagi bersama kita. Kita berpisah dari lulus SMA. Dia lebih memilih perintah orang tuanya. Dia melanjutkan kuliah di kota Cirebon. Dimana aku dan yang lainya memutuskan untuk kuliah bersama pada satu kampus yang sama, dia malah memilih pisah. Dan aku sangat rindu dengan wanita satu ini. Dia memilih farmasi untuk di dalaminya.
Namanya Ikfa atau tengging. Wanita ini mengalami banyak perubahan. Tidak lagi seperti dulu, gayanya yang seperti preman sekarang justru alim dan cantik. Berhijab dan memakai rok. Yang cara bicaranya tidak tertata, sekarang lebih tertawa. Pokoknya dia berubah drastis. Tetapi aku tetap rindu denganya. Dan aku suka dengan perubahanya. 😃
Dan yang terakhir aku sendiri. Untuk pendapat biar teman-teman yang menilai. Tapi yang pasti orangnya baik, ramah dan cantik. *pede gilanya kumat* 😝
*****
Sejak kita semua sama-sama sibuk dengan dunia kita, kita jarang sekali bertemu atau jalan-jalan seperti dulu. Waktu kita terbagi. Dan aku rindu pada masa kita kumpul bersama, berbagi lelucon yang kadang sering kali garing, makan bersama di nasi padang, jalan-jalan ke mall bersama. Kita itu bisa di bilang seperti segerombolan anak TK. Kemana-mana selalu bertuju. Dan itu dulu. Sekarang kita sendiri-sendiri. Waktu cuti kerja kita kadang tidak sama. Setelah lulus SMA kita benar-benar di uji. Dari segi kekompakan dan kekeluargaan.
Kalian kangen gak sih masa-masa kita dulu yang selalu asyik.?
Aku rindu gays masa-masa itu. Kita yang sering tertawa lepas, kita yang jaim, kita yang selalu kampungan. Kita yang selalu heboh di kelas, kita yang paling rame. Aku kangen masa itu.
Kalian sadar tidak? Sebentar lagi mungkin kita akan menjadi mahasiswa, seperti Ikfa teman kita yang lebih dulu memutuskan meninggalkan tujuh sekawan. Kita akan benar-benar di sibukkan oleh perkuliahan. Kita akan mempunyai teman-teman baru. Lingkungan yang juga baru.
Aku jujur takut, kita tidak bisa sama-sama lagi. Kita lupa dengan siapa diri kita dulu. Sahabat yang lebih dari sahabat, keluarga yang lebih dari keluarga.
Semoga setelah nanti kita sama-sama sibuk, kita tidak lupa dengan siapa kita. Kita selalu bersama, konteks atau hubungan kita jangan sampai terputus gara-gara kita punya teman baru. Seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Semoga kita bukan yang seperti itu. Justru kita akan selalu dekat. Kita harus mencari tempat makan yang asyik untuk kita nongkrong sepulang kuliah, tempat untuk berbagi cerita penat. Agar kita selalu erat. Agar kita tidak selalu lupa. Semoga.
Semoga kalian mengerti tentang ini. Tentang aku yang rindu bersama kalian. Tentang aku yang takut kehilangan kalian. Mencari sahabat yang konyol seperti kalian itu susah. Aku sayang kalian gays. *hug*
I miss you😍
Oke, aku bakal ngenalin mereka satu-satu. Pasti kalian pada penasaran gimana jaimnya sahabat aku yang kampungan. Bagi aku sendiri, sahabat tidak harus gaul atau apa lah. Yang terpenting jaim dan konyol. Karena dua faktor itu yang membuat aku selalu nyaman dan bahagia. Bahkan aku sering kali terhibur.
Yang Pertama :
Namanya sih, Santi Dahlia. Dia berasal dari kota kuda; Kuningan. Akrab di panggil ibu negara. Nama itu sendiri, aku juga tidak begitu paham dari mana asal mulanya. Yang terpenting unik. Bagi aku sendiri pastinya.
Ibu negara ini adalah salah satu dari kami bertuju yang jago banget ngelawak. Dia anaknya yang blak-blakan, suka jatuhin orang. Tapi dalam hal yang positif. Sekali tidak suka dia tidak memiliki toleran. Baik pastinya. Dan satu lagi, ibu negara ini tidak pelit. Suka memberi. Dia hobbi kentut sembarangan. Di situ keasyikan kita. Selalu terbuka dan apa adanya. Umurnya mungkin masih muda, tapi pemikiranya dewasa. Dan aku suka.
Dia juga menjadi pemenang LDR yang paling tabah dan sabar. Setianya tiada batas. Awett, romantis dan rukun selalu. Dia tidak seperti aku dan yang lainnya. Dimana aku sering gonta-ganti pasangan, dia tetep itu-itu aja. Dan dia curang, dia sudah di lamar duluan. Dan aku masih saja tertinggal. Hahaha. Tapi tidak masalah, yang terpenting bahagia. Dan aku rindu kamu ibu negara. *hug*
Yang Kedua:
Namanya Tari, akrab di panggil cablak. Dia dari Pekalongan punya. Atau lebih terkenal dengan sebutan kota batik. Anaknya yang selengehan, bergaya cowo, jago karate pastinya. Setiap jalan-jalan kemanapun, aku tidak merasa takut dengan dia. Dia menjadi pelindung kita.
Tapi dia lucu, dia penakut kucing yang imut. Setiap kali melihat hewan lucu satu itu, dia selalu saja heboh. Dan dia paling rame di antara kita bertuju. Tentunya setelah ibu negara.
Yang Ketiga:
Wanita satu ini bisa jadi paling feminim, paling tegas dari kita. Tetapi oh tetapi, dia sebetulnya cengeng. Namanya: Dian Irmawati. Akrab di panggil cunong. Dia berasal dari Kota Bahari Tegal. Dia ini unik, yang cunong itu pipinya. Atau bisa juga di bilang bakpao. Tapi aku lebih suka memanggilnya cunong. Lucu.
Yang Keempat:
Kalau ngomongin anak satu ini, semua pasti memasang muka masam. Di mana yang lain sudah sampai C dia masih di A. Hahaha. Dia ini tulalitnya tidak mempunyai toleran. Tulalitnya banget. Namanya juga paling panjang sendiri. Jangan di sebutin deh.! soalnya terlalu panjang. Namanya: Agustin Dyah Ayu Riahsari.
Paling serakah kan? Namanya lima orang dia pakai sendiri. Dia sama seperti Tari. Dari Pekalongan, Kota Batik.
Tulalit ini, bisa di bilang paling religius. Kemana-mana selalu pakai rok. Hijabnya tidak pernah ketinggalan. Maklum sudah istiqomah lahir batin. Kalau aku sendiri, ibu negara, Cablak, Tengging, Miss galau, masih setengah-setengah. Belum plus banget. Hahaha. Sedangkan tulalit sama cunong ini, sudah lahir batin.
Yang Kelima:
Dia ini, tidak sedih, tidak bahagia selalu saja galau. Namanya juga miss galau. Nama aslinya Royati. Dia berasal dari Kota Kuda, Kuningan. Orang sunda sama seperti ibu negara. Dia calon pengacara. Cantik. Dan dia paling fasion di antara kami bertuju. Dia juga bisa jadi paling muda. Paling manja. Kalau nungguin dia ngomong itu lama banget. Pelan banget ngomongnya. Tapi istimewa.
Yang Keenam:
Huummm....
Aku sedih jika harus bercerita sahabatku satu ini. Dia tidak lagi bersama kita. Kita berpisah dari lulus SMA. Dia lebih memilih perintah orang tuanya. Dia melanjutkan kuliah di kota Cirebon. Dimana aku dan yang lainya memutuskan untuk kuliah bersama pada satu kampus yang sama, dia malah memilih pisah. Dan aku sangat rindu dengan wanita satu ini. Dia memilih farmasi untuk di dalaminya.
Namanya Ikfa atau tengging. Wanita ini mengalami banyak perubahan. Tidak lagi seperti dulu, gayanya yang seperti preman sekarang justru alim dan cantik. Berhijab dan memakai rok. Yang cara bicaranya tidak tertata, sekarang lebih tertawa. Pokoknya dia berubah drastis. Tetapi aku tetap rindu denganya. Dan aku suka dengan perubahanya. 😃
Dan yang terakhir aku sendiri. Untuk pendapat biar teman-teman yang menilai. Tapi yang pasti orangnya baik, ramah dan cantik. *pede gilanya kumat* 😝
*****
Sejak kita semua sama-sama sibuk dengan dunia kita, kita jarang sekali bertemu atau jalan-jalan seperti dulu. Waktu kita terbagi. Dan aku rindu pada masa kita kumpul bersama, berbagi lelucon yang kadang sering kali garing, makan bersama di nasi padang, jalan-jalan ke mall bersama. Kita itu bisa di bilang seperti segerombolan anak TK. Kemana-mana selalu bertuju. Dan itu dulu. Sekarang kita sendiri-sendiri. Waktu cuti kerja kita kadang tidak sama. Setelah lulus SMA kita benar-benar di uji. Dari segi kekompakan dan kekeluargaan.
Kalian kangen gak sih masa-masa kita dulu yang selalu asyik.?
Aku rindu gays masa-masa itu. Kita yang sering tertawa lepas, kita yang jaim, kita yang selalu kampungan. Kita yang selalu heboh di kelas, kita yang paling rame. Aku kangen masa itu.
Kalian sadar tidak? Sebentar lagi mungkin kita akan menjadi mahasiswa, seperti Ikfa teman kita yang lebih dulu memutuskan meninggalkan tujuh sekawan. Kita akan benar-benar di sibukkan oleh perkuliahan. Kita akan mempunyai teman-teman baru. Lingkungan yang juga baru.
Aku jujur takut, kita tidak bisa sama-sama lagi. Kita lupa dengan siapa diri kita dulu. Sahabat yang lebih dari sahabat, keluarga yang lebih dari keluarga.
Semoga setelah nanti kita sama-sama sibuk, kita tidak lupa dengan siapa kita. Kita selalu bersama, konteks atau hubungan kita jangan sampai terputus gara-gara kita punya teman baru. Seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Semoga kita bukan yang seperti itu. Justru kita akan selalu dekat. Kita harus mencari tempat makan yang asyik untuk kita nongkrong sepulang kuliah, tempat untuk berbagi cerita penat. Agar kita selalu erat. Agar kita tidak selalu lupa. Semoga.
Semoga kalian mengerti tentang ini. Tentang aku yang rindu bersama kalian. Tentang aku yang takut kehilangan kalian. Mencari sahabat yang konyol seperti kalian itu susah. Aku sayang kalian gays. *hug*
I miss you😍
Rabu, 11 Februari 2015
Jangan Terlalu Menghayati
Ini tentang perspepsi cinta, terkadang orang lebih banyak menghayati cinta bukan menikmatinya. Dan pada akhirnya menimbulkan sakit yang teramat parah. Semakin hari, semakin menghayati justru akan memperkeruh keadaan nantinya. Kamu tidak bisa menerka apa yang esok akan terjadi. Jangan selalu berniat memiliki hati seseorang yang kamu cintai dengan seutuhnya.
Terkadang saat kita mencintai seorang dengan perasaan ingin memiliki seutuhnya, justru pada saat proses melepaskan nantinya, bisa jadi itu adalah hal yang teramat susah. Ini sedang berbicara jauh dari kata PUTUS.
Seperti aku sendiri, aku pernah di suatu keadaan yang benar-benar terobsesi ingin memilikinya seutuhnya. Setelah putus, justru sakit yang mendalam aku rasakan. Melupakan memang tidak secepat kilat. Melupakan tidak semudah mengedipkan mata. Jauh lebih rumit dan susah dari itu.
Dan berhari-hari aku menghayati pesakitan yang melanda. Sendiri. Bahkan aku hampir menggila. Hampir hilang kewarasan saat itu. Tapi, saat belajar menikmati bukan terlalu menghayati, sakit yang melanda kian hari kian surut. Aku menikmati sendiriku. Aku menikmati hari-hariku. Dengan berusaha sebahagia mungkin, akupun selalu mencari kesibukan apa pun yang membuatku sedikit lupa. Menikmati setiap harinya waktu yang berjalan. Tidak menyangkutpautkan dia lagi di list jadwal pekerjaan hariku. Setiap harinya aku berusaha menikmati kesibukanku, bukan menghayati. Karena apa-apa yang di hayati kadang lebih menusuk dan berbeda dengan menikmati. Dimana kita mempunyai hati yang tulus untuk menjalaninya. Keikhlasan tanpa adanya sebuah paksaan.
Berhari-hari, berbulan-bulan, aku menikmati itu semua. Hingga akhirnya secara tidak sadar, dia bukan lagi yang sibuk di kepalaku, dia tidak lagi memenuhi seisi hatiku. Dia bukan lagi list nama orang yang aku rindukan. Dan aku berhasil menikmati sakit dengan sibuknya hariku. Dan ingat bukan menghayati. Tapi menikmati.
Bahagiamu bukan selalu datang pada satu orang, hanya saja kadang kamu yang mencoba terlalu pintar meramal. Kamu menentukan bahagiamu dengan dia. Yang kadang ternyata bahagia datang dari kiblat manapun dan sesukanya. Hanya saja kamu terlalu menghayati satu arah, hingga kamu lupa menikmati bahagia-bahagia yang lain. Percaya, hati yang tidak lagi utuh saat kamu benar-benar menghayati keadaan tersebut, hatimu akan semakin runtuh. Tidak akan pernah utuh dan tidak akan bisa melepaskan. Tapi nikmatilah segala sesuatunya dengan keikhlasan. Bahagiamu akan hadir bertubi-tubi.
Selamat bahagia dan selamat move on. Semoga lekas bahagia dari luka.
Langganan:
Komentar (Atom)
Banyak Hilangnya
Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...
-
Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...
-
Hai.... Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah. Ini adalah tahun kesekian yang akhirnya aku memberanikan diri untuk duduk dan b...