Aku ingin lekas menyusuri warna-warna tanpa tubuhmu di sampingku. menghilangkan warna-warna kelabu di bulan November yang teramat sendu. Menyusuri jalan-jalan bekas kenangan kita tempo lalu.
Semakin aku berusaha membencimu, dadaku justru semakin pengap. sedangkan di ubun-ubunku kau pernah tumbuh sebagai cerita.Kita yang pernah menghabiskan sore berdua hingga pagi merenggut semuanya.
Kau telah menjebakku dalam ketidakpastian. Seperti langit yang sudah kelabu tetapi hujan tak kunjung tiba. Seperti baju-baju yang digantung di bawah lorong langit menunggu angin agar lekas kering, lalu kau kenakan kembali.
Di matamu, aku tidak pernah menjadi siapa-siapa. Sekalipun aku pernah menjadi kekasihmu.Kau melupakan hal yang sudah-sudah. Yang pernah kita lewati dengan tidak mudah. Ada rasa sakit yang tidak pernah kau pahami. Itu mengenai diriku.
Dan pada akhirnya aku mulai belajar memahami tentang engkau yang pelan-pelan hilang lalu setelahnya engkau akan benar-benar pergi. Kau tak butuh ucapan perpisahan. Atau sebuah kata memutuskan. Kau hanya butuh diam dan tidak memperdulikan.
Ruang terhampaku bukan ketika engkau sudah tiada. Tetapi, ketika pada akhirnya, aku mulai menyadari bahwa aku tidak pernah ada dihari-harimu yang lalu. Di cerita kita yang sudah-sudah. Aku akan belajar untuk secepatnya lupa, bahwa dahulu kita pernah bersama. Aku akan belajar menjadi tiada.