Minggu, 05 November 2017

RUANG HAMPA

Aku ingin lekas menyusuri  warna-warna tanpa tubuhmu  di sampingku. menghilangkan warna-warna kelabu di bulan November yang teramat sendu. Menyusuri jalan-jalan  bekas kenangan kita tempo lalu.

Semakin aku berusaha membencimu, dadaku justru semakin pengap. sedangkan di ubun-ubunku kau pernah tumbuh sebagai cerita.Kita yang pernah menghabiskan sore berdua hingga pagi merenggut semuanya.

Kau telah menjebakku dalam ketidakpastian. Seperti langit yang sudah kelabu tetapi hujan tak kunjung tiba. Seperti baju-baju yang digantung di bawah lorong langit menunggu angin agar lekas kering, lalu kau kenakan kembali.

Di matamu, aku tidak pernah menjadi siapa-siapa. Sekalipun aku pernah menjadi kekasihmu.Kau melupakan hal yang sudah-sudah. Yang pernah kita lewati dengan tidak mudah. Ada rasa sakit yang tidak pernah kau pahami. Itu mengenai diriku.

Dan pada akhirnya aku mulai belajar memahami tentang engkau yang pelan-pelan hilang lalu setelahnya engkau akan benar-benar pergi. Kau tak butuh ucapan perpisahan. Atau sebuah kata memutuskan. Kau hanya butuh diam dan tidak memperdulikan.

Ruang terhampaku bukan ketika engkau sudah tiada. Tetapi, ketika pada akhirnya, aku mulai menyadari bahwa aku tidak pernah ada dihari-harimu yang lalu. Di cerita kita yang sudah-sudah. Aku akan belajar untuk secepatnya lupa, bahwa dahulu kita pernah bersama. Aku akan belajar menjadi tiada. 

Senin, 30 Oktober 2017

Akhirnya, Aku Memilih Berhenti

Hari ini, aku memilih untuk berhenti dari hal-hal yang membuatku sia-sia. Dari hal-hal yang sudah dengan sekuat tenaga aku perjuangkan dan aku pertahankan dengan sedemikian cara. Aku memutuskan untuk pergi kembali tanpa mengganggu kamu lagi.

Aku akan sembunyikan rasa tentangmu. Menjalani dengan selapang dada dengan segenap usaha yang aku bisa. Di ubun-ubunku kau akan terus tertanam.Di dadaku kau akan tetap tumbuh menyakitkan. Menancap hingga membuatku tak karuan.

Hari ini aku memutuskan untuk berhenti. Berjalan di jalan yang bukan kita lagi. Sebab, hilangku atau tiadaku tak akan pernah kau cari lagi. Seberapa terlukanya aku pun kau tak pernah ingin tahu mengenai itu.

Duniamu bukan perihal aku. Cinta akan tumbuh dengan saling memafkan. Akan tumbuh dengan saling memperjuangkan dan memperbaiki. Cinta akan selalu mengubah tanpa harus aku meminta dirimu untuk berubah.

Jangan mencariku lagi ketika aku sudah hilang dari 5 cm pandangan matamu. Atau jangan menyapaku lagi jika pada ujungnya kau adalah bagian luka  yang bermuara.

Aku akan berhenti untuk menunggumu, sebab kau telah jengah denganku.

Aku adalah baju, yang berkali-kali kau basahi lalu kau keringkan diteriknya matahari dan sendunya hujan. Ranting yang kau hempas dengan angin kencang. Patah. Jatuh. Lalu, menjadi kayu bakar.
 

Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...