Selasa, 22 Mei 2018

Kau Tampak Biasa

Dihari-hari patah, berbulan-bulan aku terus belajar bagaimana caranya agar luka di hatiku sembuh. Berhenti mengingatmu adalah sebuah keharusan. Kepergian yang terus merapalkan tangis pada malam yang penuh kesunyian. Tak mudah. Akupun mulai lemah. Pada ingatan yang terus singgah tanpa henti. 

Terkadang aku rindu pada hal yang biasa kita lakukan bersama. Tentang hal-hal yang membuat kita tertawa dengan renyahnya. Tentang ruang kita yang penuh harapan yang akhirnya pudar seketika. 

Akupun mulai menyerah. Tangis-tangis terus berlinang. Kau meremas segala bahagia kita yang awalnya kentara. Kau menjadi sekat jalanku untuk terus maju tanpa henti. Aku berpacu bersama ingatanmu yang tak kunjung mereda di ingatanku. 

Aku terluka, sedang kau tampak biasa. Aku yang menggenggammu terlalu erat. Kau melepasku dengan suka cita. 

Aku benci kehilangan. Aku benci kau yang datang hanya untuk mempermainkan. 

Setelah itu, aku belajar menguatkan hati. Menatanya kembali. Belajar merangkak, berjalan, dan akhirnya aku bisa berlari. Untuk tetap berdiri tanpamu lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...