Minggu, 12 Agustus 2018

Merengkuh Lukaku Sendiri

Sejak sore itu, aku tak mengharapkan ia kembali lagi. Semestaku sudah berkali-kali ia patahkan. Duka dan luka kini kurengkuh sendirian. Apa dia akan datang untuk menguatkan? Kujawab dengan suara paling lantang, yang dengan susah payah aku usahakan dalam tangis sendirian.

Tidak! Ia tidak akan kembali lagi. Mata itu, tatapannya sudah berubah bukan untukku lagi. 

Luka sudah terlalu dalam untukku sedihi. Dukanya sudah memilukan hati. Aku tak ingin memintanya untuk mengerti tubuhku yang patah. Jatuh berkeping-keping. Biarkan saja aku berjalan sendiri, tertatih menuju pergi.

Semestaku, kini aku melepaskan ia yang memang Tuhan takdirkan bukan untukku. Melupakannya seiring waktu. Lalu, belajar menerima sebagaimana diriku. Ia bukan seseorang yang kubanggakan lagi. Ia bukan seseorang yang menemani segala resah dan menguatkanku.

Lengannya, sudah milik oranglain. Sudah, kini saatnya aku berlalu.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...