Bukan bermaksud untuk keberatan, ketika kamu mengutarakan perasaanmu kepadaku, berbagi segala cerita asmaramu, tentang kegalau-galauan yang akhir-akhir ini kamu permasalahkan. Tentang sedih-sedih yang lebih banyak kamu utarakan. Sampai aku yang mendengarnya teramat kasihan dan mengiba.
Aku, pernah berada di posisimu sekarang. Kurang perhatian, terkadang merasa tidak pernah di anggap jika kita ada, atau disalahkan yang tidak-tidak.
Kamu memang mungkin teramat cinta. Tapi, cara pandangmu kian berbeda menurut logika. Kamu sering di buat luka. Tapi hatimu masih tetap memilih dia. Bahkan, dia buruk sekalipun. Aku juga tahu, cinta yang kamu miliki bukan seperti cintanya. Cintamu tulus apa adanya. Tidak kamu buat-buat sedemikian rupa. Entah dengan iba atau rasa kasihan seperti rasanya.
Kamu selalu bilang bla, bla, bla tentang dia. Dia yang jutek membalas pesan BBM-mu, dia yang terlalu mementingkan dunianya ketimpang kamu, dia yang selalu saja kurang peka dan perasa. Dan aku hanya bisa mengarahkan ke hal yang positif. Memberi masukan sebisanya. Yang mengerti tentang kebahagianmu, aku rasa hanya dirimu sendiri. Aku hanya sebagai orang yang mensuport kamu dari belakang. Asal menurutmu membahagiakan, lakukan saja. Tapi, jika selalu membuat luka dan merana, ada baiknya kamu tinggalkan.
Karena bagiku sendiri, seseorang yang mencintai kita dengan hati, dia tidak akan rela membiarkan orang yang dicintainya menangis bahkan terluka. Dia akan selalu menjaga perasaan terlembut yang wanita miliki. Selalu bisa peka dengan suasana. Bukan acuh atau masa bodo. Dia akan selalu peduli dan mengabarimu dalam sibuknya. Entah sekedar mengingatkan makan; misalnya.
Jadi, mulai sekarang jangan selalu mengeluh. Pahami hatimu lebih jeli. Agar kamu tahu bagaimana cara membahagiakannya. Dan kamu berhat untuk selalu bahagia. Dan pilihlah hati yang siap mencintaimu sampai nanti. Tidak untuk sekedar meluka begitu lara. Dan semoga kamu lekas paham dan mengeri apa pinta hatimu sendiri. Yang terbaik akan untuk yang terbaik. Dan yang di pilih untuk menetap, dia akan selalu menetap. Tetapi, jika dia di takdiri untuk pergi, kamu harus siap hati.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Banyak Hilangnya
Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...
-
Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...
-
Hai.... Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah. Ini adalah tahun kesekian yang akhirnya aku memberanikan diri untuk duduk dan b...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar