Tepat jarum jam diangka 6 pagi, Putri lekas membereskan buku-buku kuliahnya. Setelah dirasa semua telah masuk kedalam ransel miliknya, Putri bergegas berangkat ke kampus. Matahari semakin menampakkan dirinya, kendaraan roda dua, dan juga tidak mau kalah pula, para awak angkutan umum saling kebut mengejar penumpang.
Tepat pukul 6 pagi, suasana jalan raya tepat di depan sebuah kompkek Perumahan Villa Inti Persada, Pamulang Timur, Tangerang Selatan terlihat memadat. Gadis ini mendongakkan kepala untuk melihat ke arah kanan, untuk menyebrangi jalan. Lima menit kemudian angkot bernomor 23 arah Bojongsari, tepat berhenti didepannya.
Sepanjang perjalanan, aku terasa dikejar oleh puluhan prajurit militer yang siap menembakku. Waktu memburuku agar lekas sampai ditempat tujuan.
Tepat di pertigaan Bojongsari, Depok, Putri berhenti dan lekas melanjutkan perjalanan kembali. Dia menaiki angkot bernomor 03 arah stasiun Depok Baru.
Tepat pukul 6 pagi, suasana jalan raya tepat di depan sebuah kompkek Perumahan Villa Inti Persada, Pamulang Timur, Tangerang Selatan terlihat memadat. Gadis ini mendongakkan kepala untuk melihat ke arah kanan, untuk menyebrangi jalan. Lima menit kemudian angkot bernomor 23 arah Bojongsari, tepat berhenti didepannya.
Sepanjang perjalanan, aku terasa dikejar oleh puluhan prajurit militer yang siap menembakku. Waktu memburuku agar lekas sampai ditempat tujuan.
Tepat di pertigaan Bojongsari, Depok, Putri berhenti dan lekas melanjutkan perjalanan kembali. Dia menaiki angkot bernomor 03 arah stasiun Depok Baru.
Sama seperti kota tempatnya bekerja dan tinggal, sepanjang jalan terotoar kota Depok memadat. Dan untungnya tidak sebegitu macet. Putri duduk dikursi paling pojok belakang, memperhatikan satu persatu kendaraan yang mendahului angkutan umum yang ditumpakinya. Menopang dagunya dengan kepalan tangan. Puti masih fokus menyimak jalanan kota Depok yang begitu macet. Diperhatikan, seorang laki-laki muda yang mengendarai motor matic tepat dibelakang angkutan yang ditumpaki. Laki-laki itu berboncengan dengan seorang wanita, mungkin, mereka adalah sepasang suami istri. Mereka terlihat sangat serasi, dari bahasa tubuh mereka, sangat jelas sekali wanita menyunggingkan tawa kecil disepanjang perjalanan. Entah sedang membincangkan apa, terlihat sangat bahagia sekali. Laki-laki itu mencoba memberi lelucon. Sang perempuan tersenyum sumringah. Lalu mereka berbelok ke arah sekolah islam Al-Hamidiyah. Mungkin wanita itu adalah seorang guru.
Putri masih memandangi jalanan. Tepat pukul 7, dia sudah membeli tiket kereta computer line arah Tanjung Barat, Jarkarta Selatan.
Putri masih memandangi jalanan. Tepat pukul 7, dia sudah membeli tiket kereta computer line arah Tanjung Barat, Jarkarta Selatan.
Sesampainya didalam stasiun Depok Baru, Putri selalu menyempatkan diri untuk mampir disalah satu kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritnya. Iya, Kedai 'Roti O'; namanya. Putri memesan satu cappucino hangat, tidak terlalu memakai banyak gula pastinya, agar cita rasa kopi yang mengecap indra perasanya tetap terasa alami. Lidahnya mulai mengecap rasa, dan hidungnya mulai mendengus wangi kopi. Putri mulai tertarik pada jenis kopi satu ini. Sembari menunggu kereta arah Jakarta kota datang dari arah Bogor, dia menyeruput sedikit kopinya. Hidungnya masih terus mendengus. Lidahnya mulai mengecap cita rasa pait pekat, namun ada sedikit terasa manis, karena gula yang ditambahkan.
Keretapun tiba, Putri masuk disalah satu gerbong. Dan isinya rata-rata adalah kaum adam. Saking penuhnya, dia sampai tidak mendapat tempat duduk, penumpang didalamnya nyaris penuh. Saling berhimpit dengan penumpang satu dan yang lain, dan terpaksa dia berdiri diujung pintu kereta sebelah kiri. Tubuhnya yang tinggi semampai dan ringkih, tiba-tiba oleh seorang penumpang, disenggol lumayan kencang, Putri hampir terjatuh. Karena tubuh seseorang yang menyenggol tubuhnya lumayan berbobot.
Tiba-tiba, sssssrrrtttttt......DUG! Cappucino yang ditangannya tumbah ke salah satu penumpang laki-laki yang bersebelahan dengannya. Kopi yang ia bawa, raib tumpah ke flanel kotak-kotak dengan warna hitam-putih miliknya.
"Eh..ehh..sorry mas, saya nggak sengaja." , sambil membersihan tumpahan kopi dengan tissue basah yang ia punya.
"Nggak apa-apa mba, saya bisa bersihkan nanti di toilet.!" tolaknya sembari tersenyum.
"Ta..tatapi,,, nanti bekas kopinya keburu kering. Justru makin susah hilang bekas nodanya.!", "maaf yah.?" sambil menapakan kedua tangannya tepat didepan mukanya. Persis seperti anak kecil berusia 5 tahunan, yang memohon, merengek minta dibelikan es krim kepada mamanya.
Puluhan mata masih terpaku memandanginya. Melihat dengan tatapan heran, sebagian orang justru tidak terlalu perduli. Ada juga yang memperhatikan dengan mata yang sangat detail.
Kereta pun tiba dipemberhentian terakhir, tepatnya di stasiun Tanjung Barat Jakarta Selatan. Lelaki tadi pun ikut turun bersamanya. Dia terlihat sangat buru-buru, karena jarum jam menunjukkan setengah delapan. Dan, Putri pun terburu-buru hingga lupa, tidak berkenalan dengannya. Darah disekujur tubuhnya berdesir dari ujung kaki, jantung hingga kepalanya. Detaknya makin tidak beraturan seirama. Tidak beraturan, berdetak lebih cepat dari biasanya, seperti spesies kuman yang berkembang super cepat.
Putri meringis geli, dipagi hari begini pemandangan di ibu kota selalu terlukis dengan kata 'macet'. Pemandangan yang tidak lekang oleh seiring waktu dan hari. Pak satpam, yang menjaga perlintasan kereta api dengan senyum ramahnya. Barangkali dia tidak asing lagi dengan wajah Putri yang hampir setiap sabtu pagi dilihatnya.
Jalan trotoar di bawah jembatan playover memadat, para pemudi motor yang ingin lebih dulu, saling menghimpit dan berebut. Angkutan umum, mobil pic up, serta mobil pribadipun tidak mau kalah. Suasana yang ramai dan bising, bau asap kendaraan, melucuti kadar oksigen di belahan bumi pagi hari.
Pengemudi angkutan umum yang selalu menambah muatan berlebihan, angkot yang ditumpangi sudah terlalu penuh dengan penumpang, namun, pengemudinya masih saja menerima penumpang lain. Padahal, ini justru membahayakan penumpang tersebut.
Lima belas menitpun berlalu, Putri tiba di Universitan Indraprasta PGRI Gedong, Jakarta Timur. Pagi terlalu naif, memaksanya bergumal dengan lingkungan sekitar yang berhimpitan oleh manusia yang serakah. Ibu kota terlalu arogant, dia masih menghela nafas panjang. Meminum air mineral yang dibawa didalam ranselnya. Lalu berjalan menuju kelas.
Yogi, kekasihnya sudah menunggu kedatangannya sedari tadi. Dengan senyuman yang sumringah, yang nyaris membuat Putri terpaku setiap harinya. Bahkan, senyumannya sangat renyah membuat partikel-partikel disekujur tubuhnya meleleh. Senyumannya yang khas nyaris membuat detak jantung berhenti sesaat.
Dia selalu menjadi pagi yang indah, sebuah karunia Tuhan yang selalu ingin dijaga. Yang ingin selalu dinikmatinya sendiri.
Yogi adalah salah satu mahasiswa desain komunikasi visual semester 6, dia adalah salah satu senior yang digandrungi para gadis-gadis kampus yang sedikit genit dan tebar pesona. Parasnya tampan. Lesung pipit di pipi kanannya, membuat wajahnya berkarisma. Sedangkan Putri adalah mahasiswi Fakuktas Bahasa Dan Seni semester 3. Memilikinya adalah sebuah keajaiban. Sebuah kebetulan yang tidak pernah terduga. Bahkan, memilikinya adalah bagai sebuah mimpi disiang bolong. Padahal, banyak wanita yang mendekati dirinya. Dia justru memilih Putri.
Putri yang terlihat cuek. Berbeda dengan wanita zaman sekarang yang memperioritaskan penampilan. Rela menahal sakit hanya demi terlihat cantik. Memakai hill tinggi serta memakai bedak yang supertebal seperti para badut Ancol.
Rambut hitam legam bobnya selalu dia urai, hidung yang sedikit mancung, bibir yang tipis dibalut kaca mata bulat agak sedikit persegi didisi pojoknya, nyaris membuatnya cantik alami. Hanya berlipstikan tipis dibibirnya. Sepatu converse abu-abu yang di pakainya, jeans ripped, serta flanel merah-kuning, kotak-kotak miliknya membuatnya terlihat elegant. Namun masih tetap berkesan simple.
Putri memasuki koridor kampus di lantai tiga. Sedangkan, Yoga berada di lantai lima di gedung yang sama. Putri dan Yoga tidak berhubungan intim seperti pasangan lain, mereka nyaris biasa saja. Bertemupun seadanya, padahal mereka satu kampus. Putri lebih kemana-mana sendiri. Yoga justru lebih sibuk dengan tugas kuliahnya, lebih sibuk dengan temannya; Diana namanya. Yoga selalu memprioritaskan Diana, hatinya hampir dibuat jealous setiap harinya.
Lupakan antar-jemput, lupakan romantisnya makan malam, lupakan malam minggu, hampir Putri tidak pernah merasakan semua itu. Tapi, dia tetap bahagia, setidaknya Yoga masih detail memperhatikannya. Putri memaklumi kalau lelakinya sibuk. Setidakmya cinta memang selalu buta, tetapi hatilah yang pandai sebagai alat perasa.
Siluet senja terlihat cantik di ketinggian lantai lima gedung kampusnya. Putri masih menatapnya dengan tatapan yang takjlub. Bahkan, dia masih saja berdiri mematung disana, enggan melewatkan satupun moment, langit dihiasi oleh warna kuning keemasan, barisan awan menggumpal pelan-pelan menyusuri siluet senja. Hingga pekatnya awan melahapnya. Dari tempatnya berdiri, dia masih memandangi langit-langit kota Jakarta, rumah penduduk yang terlihat memadat. Gedung perkantoran yang berjejer bertengger di sudut belahan bumi, diujung tatap matanya.
Langit semakin menua, warna langitpun sudah berubah menjadi muram. Senjapun sudah pulang dijemput oleh langit malam. Sudah saatnya, Putri pulang. Suasana kampus pun semakin merenung, sepi. Hanya ada beberapa kelas yang masih terisi oleh dosen.
"Yoga," suaranya masih tertahan. Langkah kakinya tiba-tiba terhenti, seiring dengan air matanya yang tiba-tiba mengalir dipipinya.
Ada seseorang perempuan yang tiba-tiba memeluk tubuh Yoga, lalu mencium pipinya. Dan yang lebih meremukan seisi hatinya, Yoga membalas ciuman perempuan itu. Kening Diana. Dia masih memperhatikan pemandangan itu dari sudut parkiran motor yang Yoga tidak ketahui.
"Kamu jahat, kamu benar-benar jahat," bisiknya.
Ia berlari membalik tubuhnya, air matanya masih terus mengalir, matanya tidak kuat dengan pemandangan yang baru saja di lihatnya. Lelaki yang sangat di cintainya, memeluk perempuan lain. Bahkan sahabatnya. Yang bukan dirinya.
Putri, butuh pundak untuk menyandarkan segala pedihnya, dia duduk di sebuah taman kampus. Ada seorang lelaki yang duduk sendiri. Lantas, tanpa berfikir panjang, Putri memeluk tubuh lelaki itu. Tidak tahu lagi harus kemana untuk menyandarkan kesedihannya. Saat ini, dia hanya butuh pundak. Sakit yang di rasa begitu menyesak di rongga dadanya. Mahardika, nama lelaki itu.
Lelaki yang ditumpahi kopi sewaktu di dalam kereta, masih terdiam. Masih membiarkan Putri terisak didada bidangnya. Dengan pelan dan diam dia membalas dekapan Putri. Mencoba menenangkannya. Meski, beberapa mahasiswa yang sedang duduk di kursi taman, memandangi mereka. Setelah tangisnya mulai mereda, Dika, sapaan akrabnya, lantas bicara.
"Sudah.!" meski dengan pikiran yang lebih banyak bingung, Dika mencoba menebak kenapa gadis ini menangis terisak-isak. Mungkin jika tidak diputuskan oleh kekasihnya, bisa jadi menjadi korban lelaki yang serakah dengan perhatian (selingkuh).
"Saya, mohon kamu berhenti menangis. Pertama ini taman kampus, semua anak-anak memperhatikan kita. Dan, yang kedua flanel saya basah untuk kedua kalinya oleh ulah kamu." Dika masih ingat betul wajah Putri, gadis yang menumpahkan kopi keflanel miliknya ketika di dalam kereta.
"Ih, nyebelin. Tenang saja, nanti aku cuci. Lepaskan flanel kamu.!"
"Kenalin, nama saya Mahardika. Kamu boleh memanggilku Dika. Ternyata, kamu kuliah di sini juga?"
"Putri Wulandari, panggil saja Putri. Iya, aku mahasiswi sini juga." sambil menyeka air matanya. Wajah yang masih lembab, merona malu.
Tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki itu lagi, dari kejauhan, terlihat Yoga memperhatikan Putri. Lalu, dia menghampirinya.
"Sayang, ayo pulang. Naik buruan.!"
"Aku, tidak menyangka. Kamu setega itu padaku, Yoga.!"
Dengan kepura-puraanya, Yoga tetap terlihat polos, "Aku salah apa? Kamu itu kenapa tiba-tiba marah sama aku."
"Udah diam! Yoga, cukup!. Kamu sudah banyak membodohi aku. Kamu, menghianati aku dibelakang. Kamu pikir aku tidak tahu? Atau kamu pikir aku ini tolol? Aku melihat dengan kedua mataku, kamu menciumnya, dan kamu juga memeluknya, Ga!" Putri sudah tidak peduli dengan tatapan beberapa mata yang memandanginya. Peduli apa dengan mereka. Mereka tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Hati nya teramat perih dirasanya. Seperti terhunus oleh ribuan pedang dan belati. Sakitnya bukan main. Lelaki yang dicintainya tega berhianat. Menduakan cintanya.
"Aku minta maaf, sayang. Sungguh, aku hilaf. Tolong maafkan aku.!" Yoga menggenggam tangannya, Putri mencoba melepaskan tetapi, justru dicengkram tangannya dengan sangat erat.
Dengan tatapan yang memelas dan sedikit memohon. Yoga, menyesali perbuatamnya. Selama ini, dia telah mendustainya. Membohonginya dengan sangat terlalu. Membagi waktunya untuk orang lain. Termasuk membagi hatinya.
Dia mencoba memeluk, Putri. Namun, Putri justru berlalu, beranjak dari kursi taman. Lantas, menyeret tangan Dika ke sebuah parkiran motor. Dia menghindar, berusaha mengendalikan seisi dadanya. Sesak didadanya kembali menghimpit rongga pernapasannya..
"Tolong, antar aku!" matanya masih berkaca, hujan dipelupuk matanya, tidak kunjung reda. Justru semakin deras. Hatinya terasa remuk redam. Kesedihannya semakin memuncak. Tangisnya semakin sedu-sedan.
Dika, hanya terdiam, membiarkan ia menangis. Tanpa berkata sepatah katapun. Hatinya patah, sayap-sayap pengharapan tentang cintanya dipatahkan begitu saja.
Dika, menghentikan laju motornya di sebuah taman dekat Univetsitas Indonesia, "Sudah jangan menangis lagi! Saya, tahu. Hatimu sedang berduka. Jangan terlalu meratapi seberapa perihnya, hatimu. Air matamu tidak pantas di curahkan untuk orang yang sudah menghianati, kamu. Lelaki yang sudah tega menduakan hatimu. Resiko mencintai dan di cintai, begitulah. Kamu harus menerima dengan dada lapang. Meski teramat sakit. Tapi, percayalah! Setiap luka adalah belajaran, hidup kamu tidak akan berhenti disini. Akan banyak bahagia yang mungkin, sedang menunggu kamu di luaran sana. Jadikan, air matamu itu pantas untuk orang yang kelak mencintaimu dengan tulus. Jangan dibuang sia-sia. Toh, dia juga sama sekali tidak peduli dengan kesakitan hati yang kamu alami saat ini. Tersenyumlah!", ia menyeka bulir ari matanya dengan ujung jemarinya.
"Makasih, ya."
Dika hanya membalasnya dengan senyum.
Lismiati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar