Aku pernah menangis sepuas-puasnya. Malam itu, di saat dirimu memutuskan untuk menyudahi segalanya. Aku belum memiliki kesiapan yang cukup. Untuk menerima bahwa dirimu tidak bisa berjalan beriringan denganku lagi. Engkau tak bisa menuntun kita akan ke arah mana. Lalu semua berakhir sia-sia. Begitu saja.
Perjalanan panjang yang melibatkan hati itu seketika berakhir dengan begitu saja. Kitapun memilih tidak bertegur sapa waktu itu. Aku menjalani hari-hari senduku sendiri. Melawan segala sakit yang terasa menderu di dalam hati.
Pagiku seketika hilang waktu itu. Ragamu yang tidak lagi bersamaku. Tanganmu yang seketika hilang dari genggamanku. Semua terasa mencengangkan. Ngilunya bukan main. Perlahan, aku mulai menyadari waktu. Waktu kita yang sudah berbeda. Kita mulai seperti langit dan bumi. Tidak satu alam lagi. Akupun belajar melepaskan dirimu seutuhnya.
Hingga akhirnya akupun terbiasa sendiri. Aku belajar bangkit sesusah tenaga. Hingga aku bisa merelakanmu, meski tidak seutuhnya. Aku sembuh dari sakit yang hampir berbulan-bulan menyekatku. Aku mulai keluar dari ruang sempit yang dihuni oleh dirimu.
Setelah semuanya hampir rasional, engkau justru datang lagi. Tuhan menuntunmu lagi. Perasaanku yang hancur dihari lalu, tidak pernah sama sekali engkau pertanyakan. Jangan memberikan napas yang nyatanya sudah tiada. Jangan memberikan waktu untuk semua rasa kita, yang sudah tidak sama. Masa lalu sudah cukup membunuhku. Jangan datang untuk melukai kembali. Kau dan aku cukup menyakitkan untuk dikenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar