Aku benar-benar jatuh cinta kepada hatimu, entah sihir apa yang kamu punya. Hingga aku ingin memilikimu. Sedang kamu sudah bahagia dengan dia wanitamu. Aku tidak berhak untuk cemburu denganmu. Karena aku, hanya orang lain. Tetapi, rasanya aku ingin marah, rasanya dada ini kian menyesak. Saat aku mendapati kamu dan wanitamu sedang berdua.
Aku hanya orang lain yang ingin memiliki hatimu dengan utuh. Aku ingin hidup dengan hatimu dengan penuh. Itu hanya inginnya hatiku, bukan hatimu. Kecemburuanku semakin hari membuat dadaku sesak dan menyempit. Sendu kian berlumut di hatiku. Seharusnya, aku melupakanmu. Justru, aku semakin mencintaimu. Justru rindu kepadamu semakin nakal. Apalagi, Desember hujan lebih banyak turun di kotaku. Rindu juga semakin banyak berlabuh.
Entahlah....! Aku tidak tega membunuh perasaan yang sedang tumbuh. Apalagi mematikannya. Aku tidak memiliki keberanian sedikitpun. Itu sangat menyiksa seisi kepala. Aku justru lebih memilih membesarkannya tanpa kamu yang hadir untuk menjadi kita. Iya, aku membesarkannya sendiri. Meyakinkah hati yang tidak sehat lagi.
Aku terlalu bodoh. Mungkin. Lagi-lagi aku terjebak, ditikam dengan bulus oleh rasa cemburu yang menggunung. Aku ingin tegas kepada perasaanku yang tumbuh dengan sia-sia. Meyakinkan bahwa kamu bukan satu-satunya bahagia.
Seharusnya, aku berjalan pergi tanpa pernah ingin berlari. Berbalik lagi kearah yang kusebut 'kamu'. Ini terlalu sulit dan rumit. Dari rumus statistikpun ini terlalu sulit. Aku tidak bisa menyelesaikan soal hati. Yang rumusnya selalu berbalik lagi kehatimu. Aku tak pantas cemburu begini, karena kamu hanya tamu yang ingin kubiarkan berlalu. Tanpa ingi untuk bertamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar