Aku duduk mematung, menikmati angin yang terus saja membasuh mukaku. Menatap kebagian sudut kota. Gedung-gedung tinggi, lampu para penduduk kota. Kembang api yang bertaburan di kolong langit, semua itu cukup membuat mataku puas. Aku masih dengan hal gilaku. Duduk di ketinggian gedung pusat perbelanjaan di kota Depok. Entah aku melakukannya sudah amat sering. Aku yang diam-diam menyelinap masuk, seringkali oleh satpam kepergok tanpa ampun. Dan, beruntungnya satpam di pusat perbelanjaan percaya penuh denganku. Bahwa, aku tidak akan melalukan hal-hal gila di atas sini.
Aku selalu nyaman dengan hal-hal gila yang aku lakukan, dengan hal-hal yang aneh. Aku terlalu menikmati pemikiran-pemikiran yang hidup di kepalaku. Aku masih terus mematung dengan suasana yang sangat sepi. Hanya ada aku, Santi, dan Fatimah teman gilaku. Kita masih sibuk dengan asumsi perasaan-perasaan yang hidup. Masih dengan sendu kita masing-masih. Jalan Raya Margonda terlihat sangat memadat. Penduduk, para pedagang tumpah ruah menjadi satu. Kerumunan manusia memenuhi area sekitar stasiun kota Depok.
Malam masih terlalu sore untuk pergantian tahun. Tepat pukul sebelas malam suasana semakin meriah. Aku masih melucuti dengan tatapan yang kosong.
"Ku mohon, menjauhlah dari kehidupanku.."
Aku masih terus resah dengan kalimat yang dua tahun silam kamu utarakan padaku. Tepat di tempat ini. Aku sedikit mengatur napas yang mulai terasa sesak. Menyeka getir yang kutelan getir-getir. Mengatur detak jantung yang semakin melilit. Hatiku masih mempertahanmu hingga saat ini. Malam ini kutelan segala kecut. Ingatan yang memulangkan hal-hal yang berbau kamu., teramat membuatku perih. Aku sedikir mendengus.
Kamu yang memilih melepaskan tanpa sebuah penjelasan. Entah salah apa yang aku perbuat. Hingga, kamu tega mematahkan segala harapan, impian-impian yang membuatku hampir mati sekarat. Aku masih betah menyimpan hal tentang kita. Mungkin aku adalah perempuan gila yang masih mencintai sedalam ini.
Bahkan, aku tidak pernah menimbang seberapa rasa sakit yan kamu hadiahkan untukku. Pikir saja dengan kepalamu. Lebih sakit mana, ditinggalkan dengan alasan. Atau ditinggalkan tanpa sebuah adanya penjelasan. Dan aku masih tetap mencintaimu. Dua tahun yang aku lewati, aku masih berharap. Berharap, andai kamu datang kembali menjelaskan semuanya. Ternyata, kamu justru membuatku menunggu, menunggu dan terus menunggu. Di hatiku, ingin memperjuangkanmu tanpa ingin pernah menyerah, ingin mempertahankanmu, tanpa pernah ingin untuk melepaskan. Dan lihatlah! Hingga aku menjelma menjadi wanita gila, aku masih saja mempertahankanmu. Menunggu penjelaaan dari perkataan yang ingin aku dengar langsung dari mulutmu. Aku wanita bebal, yang betah bertahan dengan pesakitan yang kamu tusukkan berulang.
Tanpa sadar, ada sesuatu yang jatuh di pelupuk mata. Aku segera mengusapnya, menyeka segera dengan punggung tangan. Tidak ingin kedua sahabatku melihat ini. Mereka juga sama hatinya sedang patah. Lelaki yang dicinta adalah milik hati perempuan lain.
Aku kembali terdiam. Dua puluh menit telah berlalu. Malam terasa lebih lama dari biasanya. Kadang, seseorang yang patah hati selalu menganggap waktu tidak pernah bisa berjalan pada semestinya. Terlalu merasa rumit dengan keadaan.
Tiba-tiba, ada yang meremas pundakku dari belakang. Aku sontak kaget bukan kepalang. Takut seseorang yang jail ingin berbuat jahat. Karena bagaimanapun, malam hari tidak baik untuk perempuan yang sedang patah hati, mengenang rasa sakit yang teramat menyayat.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar