Rabu, 11 Februari 2015

Jangan Terlalu Menghayati

Ini tentang perspepsi cinta, terkadang orang lebih banyak menghayati cinta bukan menikmatinya. Dan pada akhirnya menimbulkan sakit yang teramat parah. Semakin hari, semakin menghayati justru akan memperkeruh keadaan nantinya. Kamu tidak bisa menerka apa yang esok akan terjadi. Jangan selalu berniat memiliki hati seseorang yang kamu cintai dengan seutuhnya. 

Terkadang saat kita mencintai seorang dengan perasaan ingin memiliki seutuhnya, justru pada saat proses melepaskan nantinya, bisa jadi itu adalah hal yang teramat susah. Ini sedang berbicara jauh dari kata PUTUS.

Seperti aku sendiri, aku pernah di suatu keadaan yang benar-benar terobsesi ingin memilikinya seutuhnya. Setelah putus, justru sakit yang mendalam aku rasakan. Melupakan memang tidak secepat kilat. Melupakan tidak semudah mengedipkan mata. Jauh lebih rumit dan susah dari itu.

Dan berhari-hari aku menghayati pesakitan yang melanda. Sendiri. Bahkan aku hampir menggila. Hampir hilang kewarasan saat itu. Tapi, saat belajar menikmati bukan terlalu menghayati, sakit yang melanda kian hari kian surut. Aku menikmati sendiriku. Aku menikmati hari-hariku. Dengan berusaha sebahagia mungkin, akupun selalu mencari kesibukan apa pun yang membuatku sedikit lupa. Menikmati setiap harinya waktu yang berjalan. Tidak menyangkutpautkan dia lagi di list jadwal pekerjaan hariku. Setiap harinya aku berusaha menikmati kesibukanku, bukan menghayati. Karena apa-apa yang di hayati kadang lebih menusuk dan berbeda dengan menikmati. Dimana kita mempunyai hati yang tulus untuk menjalaninya. Keikhlasan tanpa adanya sebuah paksaan.

Berhari-hari, berbulan-bulan, aku menikmati itu semua. Hingga akhirnya secara tidak sadar, dia bukan lagi yang sibuk di kepalaku, dia tidak lagi memenuhi seisi hatiku. Dia bukan lagi list nama orang yang aku rindukan. Dan aku berhasil menikmati sakit dengan sibuknya hariku. Dan ingat bukan menghayati. Tapi menikmati. 

Bahagiamu bukan selalu datang pada satu orang, hanya saja kadang kamu yang mencoba terlalu pintar meramal. Kamu menentukan bahagiamu dengan dia. Yang kadang ternyata bahagia datang dari kiblat manapun dan sesukanya. Hanya saja kamu terlalu menghayati satu arah, hingga kamu lupa menikmati bahagia-bahagia yang lain. Percaya, hati yang tidak lagi utuh saat kamu benar-benar menghayati keadaan tersebut, hatimu akan semakin runtuh. Tidak akan pernah utuh dan tidak akan bisa melepaskan. Tapi nikmatilah segala sesuatunya dengan keikhlasan. Bahagiamu akan hadir bertubi-tubi.
Selamat bahagia dan selamat move on. Semoga lekas bahagia dari luka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...