Rabu, 25 Februari 2015

Dan Aku Pernah Mencintaimu Dengan Tabah

Kau ingat? Sabarku dalam mencintaimu? Apa kamu mengingat itu? Hey!! Hadap kesini, tatap mataku. Kamu jangan seperti pecundang yang selalu gampang mempermainkan hati. Mempermainkan perasaan dan membolak-balikannya. Kasihan.

Aku ini kurang tabah seperti apa? Aku ini kurang sabar yang seperti apa? Kalau pun aku mau, aku akan menuntutmu perihal sakit dan kelunya hatiku. Dan lagi-lagi aku terlalu bodoh. Sebegitu mencintaimu, hingga aku lupa bagaimana cara untuk membahagiakan hatiku.

Kamu itu lelaki sialan! Lelaki bangsat yang pernah singgah dan menetap di hatiku. Kamu bahkan tidak punya hati atau rasa kasihan. Aku miris dengan diriku sendiri. Aku yang selalu saja kamu bohongi, dan anehnya aku masih saja mempercayaimu. Aku terlalu mencintaimu. Hingga aku tidak tahu mana yang baik dan tidaknya. Logikaku tertutup dan buta.

Hitung saja, berapa banyak wanita yang sudah kamu jadikan selingkuhan? Hitung saja seberapa banyak bohongmu terhadapku. Dan aku tetap mempercayaimu bukan? Iya karena dulu aku terlalu bodoh. Aku yang selalu mendengarkan kata-katamu. Bukan mendengarkan kata sahabatku yang lebih tahu kamu. Itu karena apa? Seharusnya kamu tahu, itu karena rasa percayaku teramat besar kepadamu. Bahkan aku tidak peduli dengan kata mereka yang selalu merendahkanmu. Itu semua karena percayaku.

Tapi, kamu tidak peka. Kamu justru dengan gampangnya pergi. Tanpa melihat ke arahku yang sudah terlalu parah kamu sakiti. Bahkan hatiku sudah kamu jatuhkan berkeping. Kamu pergi seperti orang yang tidak punya dosa dan tidak punya salah. Kamu pergi seenaknya dan datang juga sesukanya.

Hey! Hatiku ini bukan taman yang bisa seenaknya kamu buat untuk mainan. Hatiku ini punya rasa. Bukan mati seperti batu. Dan kamu tidak berhak untuk menyakitinya lagi. Dulu, aku sudah sebegitu tabah mencintaimu, tapi tidak untuk sekarang. Sekarang aku mencintai dengan logika bukan dengan hati yang selalu kamu jadikan luka. Semoga kamu tahu dan mengerti bagaimana rasa sakitnya aku dulu. Hati yang kamu runtuhkan kini sudah pulih walaupun tidak sebegitu sempurna. Semoga kamu lebih bisa dan tahu tata cara menghormati hati seorang wanita yang mencintaimu. Jangan terus menyakitinya lagi. Biarkan aku saja yang terlanjur luka. Biarkan aku saja yang terlanjur patah; dulu. Karena dulu aku mencintaimu dengan tabah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...