Rabu, 25 Februari 2015

Aku Iri Dengan Kalian Yang Bisa Jadi masih di Sayang

Seperti biasa, sepulang pulang dari kampus aku selalu mengurung diri di kamar. Merebahkan tubuhku ke atas ranjang kesayanganku. Menatap langit-langit kamar, berbicara dengan fikiran yang penat. Lalu menangis kesekian jam.

Aku mempunyai orang tua yang masih utuh, tetapi rasanya tidak memiliki mereka. Aku seperti hidup sendiri di dalam hutan belantara atau di sebuah gua yang terletak di pedalaman hutan. Sepi dan senyap. Mereka bahkan sama sekali tidak menganggapku ada. Atau mengakui aku sebagai anaknya. Aku seperti yatim piatu. Seperti anak yang di buang lalu hilang tanpa kasih sayang.

Aku kadang juga iri terhadap mereka yang selalu saja di monitoring kegiatan setiap harinya. Bukan seperti aku, aku yang apa-apa sendiri. Mereka selalu saja bertengkar. Tanpa lagi menghormati bahwa di rumah ini ada aku; anaknya.

Aku tidak butuh berdebatan kalian, aku juga tidak butuh cekcok kalian. Aku hanya butuh sedikit kasih sayang juga perhatian. Sekedar mengingatkan makan; misalnya. Kalian tidak mempunyai itu sebagai orang tua. Kalian terlalu sibuk beradu argumen. Kalian egois memikirkan ego kalian masing-masing.

Entah aku terkujur sakit atau bahkan mati sekalipun kalian juga tidak akan peduli. Karena pada intinya aku tidak pernah di anggap ada. Kalian bahkan tidak tahu menahu tentang sakit yang aku derita. Lagi-lagi kalian terlalu sibuk. Dan aku menjadi korban. Jika terus saja begini, bunuh saja aku anakmu. Matikan aku. Biar aku menjadi mayid yang tak berdaya. Agar kalian puas. Agar kalian lega. Dan aku juga tenang. Aku tidak lagi memaki kalian. Aku tidak lagi membenci kalian yang mengurangi perhatian. Dan aku tenang, tidak lagi hidup dalam pesakitan.

Andai kalian paham aku tersiksa. Andai kalian paham bagaimana aku berjuang. Andai kalian tahu aku menahan kesepian. Andai kalian tahu mah, pah....


😂😂😂

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Hilangnya

Aku duduk sebentar di sebuah stasiun di Jakarta. Aku termenung untuk beberapa saat. Tubuhku enggan beranjak. Satu persatu kereta jurusan Jak...